Minggu, 04 November 2018

NASIHAT DIRI: HIDUP INI BUKAN HANYA TENTANG KITA

Tidak ada pemberitahuan apa pun kepada siapa pun saat saya sedang di taman dan menunggu hujan. Saya sangat berharap jika hujan mampu menghapus semua keresahan, ketakutan, dan semua hal negatif yang berkumpul dalam pikir.

Sore itu, mentari masih bersinar. Cahayanya memberikan kehangatan meski angin berembus cukup sering dan menerbangkan debu hingga mengusik mata. Kelimpanan.

Saya menunduk sambil mengusap-usap mata, berharap debu yang singgah akan hilang, pun dengan rasa gatal yang bersemayam. Dalam hati mengeluh sambil kecewa, belum hujan juga hingga hari ini.

Ada yang mau melanjutkan  ceritanya?

"Kok nggak bilang kalau ke sini?"
Seketika saya menahan napas. Mata saya memelotot begitu mendengar suara seseorang. Suara itu... Itu suaramu. Suara yang terdengar amat dekat, seperti tepat di belakang saya. Saya tidak berani menoleh. Saya tidak sanggup... Saya bahkan memejamkan mata seraya berharap bahwa ini halusinasi saja.
"Masih kepikiran?"
Saya masih bungkam.
"Memangnya seseram itu wajah saya sampai kamu merem gitu? Saya tersinggung lho."
Ya Tuhan, dia benar-benar nyata, batin saya. Tak ada pilihan lain selain membuka mata dan bersikap biasa saja, meski jantung ini berdegup huru-hara. Norak memang.

Hayooo, lanjutannya apa?

"Saya kan sudah bilang, jangan dipikirkan."
Saya membantah, "Tapi..."
"Sebaik apa pun seseorang, tetap ada yang tidak suka. Setiap orang punya prinsip, selera, pola pikir, pola perilaku, dan sebagainya yang berbeda," kamu melanjutkan argumen.
Kenapa dia bisa tahu kalau saya sedang memikirkan itu sambil menunggu hujan.
"Nggak ada yang benar-benar sama. Coba bayangkan kalau semuanya sama. Nggak berwarna. Nggak ada variasinya. Monoton."
Lagi-lagi ucapanmu benar.
"Kamu tahu itu, kan?"
Saya mengangguk.

Lanjutannya apa ya?

"Hidup ini bukan hanya tentang kamu dan atau saya. Tapi semuanya. Allah. Semesta. Orangtua. Saudara. Sahabat. Teman."
Saya suka kamu yang selalu mengingatkan tanpa menghakimi.
"Kalau curhat ke siapa pun, jangan mau menang sendiri. Setidaknya kasih feedback. Kamu curhat, terus balik tanya, kamu sendiri gimana kabarnya? Ada yang mau diceritain? Cerita aja. Masa aku terus yang cerita? Aku juga pengin dengar ceritamu. Pengin tahu gimana kehidupanmu. Gitu, Ink. Jangan mau didengarkan terus, tapi maulah untuk mendengarkan."
Bagaimana? Sudah merasa tertohok?

Menohok.
Dan sejak hari itu, saya berupaya menanyakan kabar. Meski tidak ke semua teman. Dari film AADC dan beberapa novel yang saya baca itulah yang menyadarkan saya bahwa mendengar cerita orang lain juga perlu. Bukan untuk menghakimi, tapi untuk menyemangati. Bukan untuk menyebarluaskan lalu mencemooh dan menertawakan di belakang, tapi untuk mendukung, barangkali dia sudah terlalu lelah menyimpannya sendiri. Bahwa sesuatu yang terlalu banyak disimpan sendiri dan membebani diri, lama-lama juga akan meledak. Dan jika ledakan itu negatif, nyawa pun terancam.
Apakah Anda juga berpikir sejauh itu? Tentang nyawa seseorang. Seseorang yang dekat dengan Anda. Bukan hanya tentang nyawa Anda.

Yuk, peduli pada sesama. Jangan mudah memberikan stempel/cap pada orang lain saat mereka baru sekali-dua kali lalai. Jangan mudah menghakimi. Jangan mudah iri dengki. Tapi terus mendukung. Terus menyemangati. Percaya bahwa semua usaha akan membuahkan hasil, meski mungkin kita tak ikut menikmati kesuksesan orang lain yang dulunya selalu meminta pendapat kita. Selalu lah ingat bahwa Allah tidak tidur. Dia berkehendak untuk segalanya. Dan tidak ada yang pernah benar-benar sendiri, sebab Allah selalu mendampingi. Selamat malam😊
Kalau mau komen, silakan. Saya lebih senang dapat komen daripada didiemin. Apalagi kalau komennya membangun💜

O ya, seperti ketika orang terdekat Anda yang berpembawaan ceria, banyak dan sering bercerita, lalu mendadak murung, sedikit bicara, atau bahkan tidak mengucap satu kata pun. Apakah Anda tidak curiga? Apakah tidak tergerak untuk bertanya?
Kalau jawabnya tidak, wah, sayang sekali. Padahal bukan cuma Anda yang butuh dia, tapi sebaliknya juga: dia butuh Anda😊


Sidoarjo, 4/11/18

Tertanda
Yang mencoba memahami dan memaknai hidup plus terima nasib, tapi tetap berusaha dan berserah diri.

Minggu, 15 Juli 2018

AKU MAU MATI! – SERIUS? MEMANGNYA KAMU SIAP?


“Aku tidak berharga!”
(Oh ayolah, kalau kamu tidak berharga, orangtuamu takkan membesarkanmu sampai sekarang, kan? Bagaimana? Masih mau mati dan merasa tidak berharga?)

“Masih! Semua yang kulakukan selalu salah!”
(Namanya juga proses. Kalau tidak ada salah dan gagal, nggak ada orang sukses, kan? Trial and error!)

“Aku tidak bisa berbuat apa-apa!”
(Masa sih? Tidak bisa bernapas? Makan? Minum? Bicara? Menulis? Bisa, kan?)

“Kalau itu, semua orang ya pasti bisa! Maksudku, berbuat terhadap sesuatu! Terus aja nggak becus dan aku nggak pantas hidup!”
(Oh, terhadap sesuatu. Kamu bisa berjalan, bahkan berlari, kan? Itu sesuatu lho. Karena nggak semua orang bisa melakukan itu. Kamu beruntung. Sadar tidak, di luar sana, ada yang mendambakan hidup sepertimu. Jadi, kamu pantas hidup dengan sebagaimanapun keadaanmu.)

“Bullshit! Aku mau mati! Bahkan saat aku mati pun, aku nggak yakin bakal ada yang nangisin aku karena merasa kehilangan! Nggak ada yang peduli sama aku!”
(Bukan bullshit, saya hanya bicara fakta. Kamu bisa melihat ke bawah—ke orang lain yang kurang beruntung—atau ke atas, orang-orang yang lebih darimu. Mungkin kamu terlalu sering mendongak, dan lupa menunduk. Saat menatap lurus pun, orangtuamu—jika masih ada—pasti akan menjadi orang pertama yang menangis atau berusaha tidak menangis saat kamu memilih mengakhiri hidupmu, tergeletak tak berdaya. Mereka mendambakanmu, sampai akhirnya Ibumu mengandungmu, dan mereka membesarkanmu sampai sekarang. Bahkan tidak sekadar membesarkanmu, tapi juga mendidikmu dan hal-hal beruntung yang kamu dapatkan sampai sekarang. Lagi-lagi, sementara di luar sana tidak sedikit pula yang tak sempat memilikimu seperti kedua orangtuamu. Masih mau mati?)

“Masih!”
COME ON! ISTIGFAR! MATI TIDAK SESEDERHANA ITU, KAWAN!
Bukan hanya kamu kok yang serbasalah, tapi saya juga. Menyedihkan dan memprihatinkan memang acapkali ketika melakukan sesuatu tetapi selalu salah, padahal sudah berusaha sebaik mungkin. Tak becus dan rasanya hanya ingin mati! Mati adalah jalan terbaik mengakhiri segala penderitaan.

Apa kamu yakin akan bunuh diri? Bukankah yang namanya manusia memang tak luput dari salah? Justru  dari kesalahan-kesalahan itulah seseorang akan mengerti artinya berjuang. Lantas, apa kamu yakin, penderitaanmu akan usai ketika kamu mati?

“Tapi aku nggak pernah benar! Nggak sekalipun!”
“Apalagi di mata orangtua! Aku ini anaknya tapi kok nggak pernah cocok??? Sebenarnya aku ini anaknya siapa??? Tetangga???”
Tenang, jangan nge-gas gitu dong. Saya juga sama sepertimu sampai detik ini, di usia yang sudah puluhan, tapi bisa dihitung jari kebenaran yang saya perbuat di depan mata mereka. Dan itu pun hanya dari hal-hal kecil dan sangat sepele. Yang kecil saja kadang bahkan seringnya masih salah, apalagi yang besar? Segalanya berproses, kan?

“Nah makanya itu! Aku pengin mati! Aku mau mati! Dengan mati, penderitaanku selesai!”
Yakin, mau mati? Kita masih bisa bicarakan semuanya baik-baik. Tidak perlu ada pertumpahan darah selagi menggunakan asas kekeluargaan. Kalaupun keluargamu tak mau atau tak bisa diajak bicara baik-baik mengenai masalahmu, kamu bisa bercerita ke orang terdekat dari keluargamu, yang bisa kamu mintai tolong untuk menyampaikan pada keluargamu.

“Nggak ada! Jadi benar, kan, kalau aku memilih mati?”
Agama mana yang menghalalkan mati? Kalau kamu tak punya orang terdekat dari keluarga yang bisa dimintai tolong, bisa lewat orang terdekat yang lain, entah itu tetangga atau mama atau papanya temanmu. Kamu pasti punya teman, kan?

“Nggak punya. Mereka musiman. Dan aku juga sudah menarik diri dari pergaulan.”
Kamu pasti punya teman dekat, saya tanya teman dekat dan yang saya bicarakan ini bukan pacar ya. Bukan teman dekat yang itu. Tapi kalau kamu punya, bisa juga cerita ke dia, tapi, ya, risiko bercerita ke orang selain dirimu sendiri adalah cerita itu bisa bocor. Kamu tahu itu, kan? Dan sebisa mungkin, jangan menarik diri dari pergaulan, bisa tak tertolong. Manusia adalah makhluk sosial. Tidak ada manusia yang benar-benar bisa hidup sendiri. Manusia perlu Tuhan, orang lain, tumbuhan, air, cahaya, dan sebagainya. Tanpa Tuhan saja, kamu tak mungkin ada di sini. Begitu pun kalau tanpa sumber daya alam dari Tuhan.

“Kamu banyak omong! Sok bijak! Memangnya kamu siapa???”
Bukan siapa-siapa. Hanya saja, saya juga berada di posisi yang sama denganmu. Saya bahkan sudah memikirkan ingin mati sejak saya SD. Sejak teman-teman dekat mengkhianati saya dan sampai hari ini masalah itu belum terlupakan. Iya, saya pendendam, tapi tak melakukan apa-apa untuk balas dendam, selain berusaha legowo, dan membersihkan nama saya yang tercemar sejak masalah itu timbul. Seingat saya, tak ada satu pun teman sekelas yang memercayai saya waktu itu. Saya tidak tahu motif apa yang dilakukan oleh teman dekat, eh, bahkan saya menganggapnya sahabat karena sejak kelas satu SD kami selalu menghabiskan waktu bersama.

Namun, kalau tak salah ingat, sewaktu kelas empat sampai kelas enam, segalanya berubah. Persahabatan menjadi permusuhan hanya karena masalah sepele: cowok, yang bahkan cowok itu adalah hak saya! Kenapa saya bilang kalau cowok itu hak saya? Karena dia teman baru saya di luar lingkungan saya selama ini! Dan mantan sahabat saya itu “merenggut” semuanya. Saya tidak tahu apa motifnya. Padahal saya hanya minta tolong dengan meminjam ponselnya untuk memperingatkan agar teman saya, si cowok itu, tidak sering menghubungi saya karena Ayah, terutama Ibu paling risi dan benci kalau melihat saya main ponsel atau mendengar ponsel saya berbunyi :’( bahkan sampai hari ini dan berlaku juga untuk adik saya—tidak suka melihat keluarganya sibuk dengan ponsel. Lantas, apa yang teman saya perbuat? Dia berbuat “curang” di belakang saya bersama teman-teman saya yang lain. Iya, di belakang saya!

Kemudian masalah bertambah runyam karenanya. Ya, “dimusuhi” teman sekelas dan teman baru yang juga dalam jumlah banyak, yang tinggalnya tidak sedesa alias beda kecamatan! What do you feel? What do you think? Makanya, saya bersyukur karena masih bisa mengendalikan diri dan masih hidup sampai detik ini.
Tentu, saya yang menjadi kambing hitam dan saya akui, saya bodoh sekali karena meminta tolong pada sahabat yang saya pikir, dia takkan pernah berkhianat, tapi ternyata bangs*t. Istigfar.

Ditambah lagi dengan permainannya yang lain, mendirikan geng di sekolah dan saya sebagai sahabatnya, harus melakukan sesuatu jika ingin bergabung dengan gengnya. Bayangkan, sahabat karib masih harus melakukan sesuatu untuk bergabung dengannya! Jadi, hubungan pertemanan kita selama ini kamu anggap apa??? Oke, anggap saja baper. Eh tapi zaman dulu belum ada kata baper ya. Sejak saat itu, saya secara tak sadar, mulai tak semudah itu untuk percaya pada orang lain dan baru saya sadari sepenuhnya sekarang. Dia, satu-satunya yang saya andalkan justru membuat saya terjerembap dan kehilangan pegangan sehingga saya ingin mati.

Bayangkan saja sendiri, anak SD sudah "berpolitik" seperti itu. Oh atau kisahmu semasa SD lebih sadis daripada kisah saya? Saya terus berharap takkan pernah menjumpai mereka lagi di kehidupan saya, tapi Tuhan berkehendak lain. Di tempat yang sekarang, kuliah, masih menjumpai mereka. Selalu ada saja salah satu dari mereka yang tergabung dalam tempat yang saya singgahi. Mengherankan. Mungkin ini salah satu cara Tuhan agar saya mau berdamai, tapi saya yang pendendam ini masih tidak ikhlas... Masih berat... Bahkan untuk sekadar lupa, masih sempat teringat hanya dengan menyebut atau membaca atau menjumpai mereka di media sosial, masalah masa lalu terangkat kembali dan mau murka :’( Iya, saya semenyedihkan dan sependendam itu. Tapi saya tidak berniat membunuh mereka kok. Hanya berkeinginan membunuh diri sendiri, tapi tidak berani sampai sekarang, sebab masih ingat dosa dan “utang-utang” yang belum dibayar.

“Aku mau mati! Aku capek menderita kayak gini!”
Ah, kamu ini, kenapa masih bersikukuh ingin mati? Memangnya kamu yakin tidak akan menderita setelah mati? Bagaimana kalau justru penderitaan di alam sana tak ada hentinya dan jauh lebih berat daripada saat kamu di dunia? Bukankah di Al quran juga sudah tercantum mengenai kuasa-Nya? Lantas, masihkah kamu ingin mati? Bagaimana kalau kamu bercerita kepada Tuhan saja? Atau menulisnya? Sebagai arsip yang bisa kamu kenang dan banggakan suatu saat nanti karena kamu bisa melewati masa-masa kelammu serta sarana terapi yang mudah. Atau datang ke psikiater untuk memeriksakan kesehatan mentalmu? Saya ingin melakukan itu, tapi... Tak ada anggaran. Mungkin, kamu mau menganggarkan dana untuk memeriksakan saya? Wkwk. Semoga kamu tidak bersikeras ingin mati, ya. Semangat! Selalu berdoalah kepada Tuhan. Dia selalu mendengarkan doa-doa hamba-Nya dan menjawabnya dengan tiga macam. Semangattt!!!

15/07/2018 20.40
Ttd,
Yang berusaha untuk terus hidup meski baru patah hati lagi kemarin (bukan karena cinta pada lawan jenis)

Jumat, 20 April 2018

Mimpimu Ketinggian? Jangan Gentar!

A: “Gue pengin jadi penulis novel best seller! Dan semua novel gue difilmin!”
B: “Hahaha. Pengin jadi penulis? Emang lo bisa nulis? Best seller? Gue nggak yakin tulisan lo bakal sebagus. Itu pun kalo beneran lo bisa nulis. Mimpi lo ketinggian! Ngaca deh.”
C: “Aku pengin jadi dokter. Pengin bisa angkat perekonomian keluarga.”
D: “Hahaha. Nggak punya modal aja belagu! Inget, orangtuamu itu siapa dan seberapa kemampuannya! Nggak usah muluk!”
E: “Aku pengin menetap di luar negeri.”
F: “Hahaha. Muluk banget kepenginan lo! Ngaca, Bro, kemampuan lo seberapa. Kuliah aja dibiayain sama beasiswa.”
Rrr... Rasanya pengin teriakin mereka balik nggak sih? Gampang banget patahin semangat orang dan mutusin buat nggak mimpi jangka panjang....
Jleb nggak sih kalau kita bercerita tentang mimpi dan cita-cita kepada mereka atau mereka bertanya dan kita menjawab penuh semangat, tapi malah dijatuhin kayak gitu? Sedih, nggak? Kecewa, nggak? Sakit hati nggak? Pengin ngelempar mereka pakai barang berat, nggak? Pengen tenggelamin mereka, nggak?
Memangnya sejak kapan ada yang salah dengan mimpi dan cita-cita? Bukankah ada nasihat lama yang mengatakan bahwa harus menuntut ilmu sampai ke negeri Cina, bercita-citalah setinggi langit, jangan menyerah untuk menggapai mimpi, tidak ada yang mustahil di dunia ini, dan masih banyak lagi.
Heran juga kenapa orang-orang dengan mudahnya mematahkan semangat untuk berandai-andai sambil berjuang mewujudkan, sementara masih ada hal positif yang mereka lakukan. Hanya dengan kata, “Semangat, ya!” atau “Pasti bisa!” atau “Pokoknya harus yakin! Pasti ada jalan!” atau bisa juga, “Nggak ada yang mustahil selagi mau perjuangin!” bisa dengan mengutip dari al quran, “Berdoalah kepadaKu, niscaya akan Kukabulkan.” Lebih berfaedah dan enak didengar, kan?
Kalaupun tak suka atau iri dengan mimpi dan cita-cita orang lain karena terlalu tinggi dan melebihi cita-cita mereka, bisa juga tetap melontarkan kalimat positif, kan? Toh mereka juga bisa memperbaiki lagi mimpi dan cita-cita mereka setelah mendengar kepunyaan orang lain. Bukankah ucapan dari seseorang juga berpengaruh dalam kehidupan? Bisa membuat seseorang mengidolakannya, termotivasi untuk melakukan hal yang sama atau bahkan lebih, terwujudnya mimpi dan cita-cita yang bisa jadi sering dijawab, “Emang bisa?” atau “Yakin bisa?” atau “Jangan belagu,” atau “Jangan muluk-muluk,” atau “Bisa makan tiga kali sehari aja udah syukur banget.”
Banyak, kan, orang-orang dari perekonomian di bawah rata-rata tapi bisa sukses. Berarti bukan mustahil, kan, bermimpi dan bercita-cita setinggi langit sekalipun lingkungan sekitar kurang mendukung. Bukan tidak mungkin, kan, Tuhan membantu mewujudkan. Siapa yang tahu kalau mimpi dan cita-cita jangka panjangmu itu terwujud begitu cepat setelah berproses. Siapa juga yang tahu kalau Tuhan justru memberikan sesuatu yang lebih dibutuhkan di atas segala keinginan dan cita-cita. Tak jarang juga baru terwujud setelah sekian lama, sebab Tuhan ingin melihat usahamu lebih keras atau putus di tengah jalan karena kalah dengan godaan.
Jangan gentar. Jangan menyerah. Tak ada yang mustahil di dunia ini. Tak ada yang lebih baik dibandingkan berniat, berusaha, berdoa, dan menyerahkan segalanya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tuhan tahu kok, kapan akan menjawab mimpi dan cita-cita kalian. Saya percaya itu, sebab telah merasakannya sendiri keajaiban dari proses yang saya lakukan untuk mewujudkan keinginan.
Proses memang tak selalu mudah. Proses tak selalu membuahkan hasil yang gemilang. Proses tak selalu nikmat untuk dirasakan. Proses tak selalu semakin menyemangati untuk mencapai apa yang ingin diraih. Tak jarang juga proses membuat kita merasa lelah karena tak mudah dan ingin menyerah karena banyak sekali halangan dan rintangan yang harus dihadapi. Jangan menyerah!
Saya memang belum bisa memberikan bukti hasil atau buah kesuksesan yang spektakuler dari diri sendiri mengenai edisi kiriman ini. Tapi, saya juga sedang berproses seperti kalian. Saya akan bercerita sedikit. Saya sangat suka menulis sejak SD. Menulis diari dan semacam puisi cukup banyak—setelah membaca buku-buku puisi di perpustakaan, yang sayangnya saya lupa judul dan pengarangnya—waktu itu. Selama SMP, saya lebih fokus menulis semacam puisi itu dengan membaca buku-buku puisi di perpustakaan juga karena saya bukan dari keluarga yang “berada”. Bahkan sangat bersemangat memposting hasil tulisan ke facebook sembari berharap mendapat komentar dari teman-teman. Mereka berkomentar dan saya senang. Lalu mengalami perkembangan lagi, dikemas dalam format jpg dengan foto saya sebagai latar belakang >.< ((narsis banget >.< mau dihapus tapi sayang :’)))
Saya berusaha menulis di tengah lingkungan yang orang-orangnya tidak gemar menulis maupun membaca. Nah, bukan perjuangan yang mudah, kan? Apalagi tidak banyak juga yang mendukung dan menyemangati. Bisa dihitung jari! Bahkan kedua orangtua saja juga tidak selaras dengan keinginan saya~ dudu~ ((bahkan sampai hari ini >.< perang banget nggak sih :’) dudu :’) eh tapi saya sudah minta doa restu mulai tahun ini! Biar cepat ketemu jodoh gitu ceritanya (jodoh untuk naskah, bukan buat sayanya. Tapi buat saya juga sih aamiin :)))
Entah sejak akhir kelas satu SMA atau kelas dua SMA—lupa tepatnya kapan—saya mulai menulis dalam versi yang lebih panjang serupa cerpen dan novel. Entah pemicunya mana dulu antara novel Shine On Me karangan Shandy Tan atau tugas Bahasa Indonesia untuk menulis cerpen. Kepada teman yang meminjamkan novel Shine On Me dan guru Bahasa Indonesia serta kurikulum 2013, terima kasih banyak! Sejak saat itu saya rajin menulis dan mengikuti lomba penulisan cerpen maupun puisi yang tersebar di facebook. Beberapa tulisan saya terpilih sebagai kontributor dan sungguh senang sekali! Saya jadi punya buku fisik—setelah terobsesi dan berambisi sekali ingin bisa mempunyai buku yang diterbitkan sehingga bisa dibawa ke mana-mana dan dikoleksi. Walaupun saya juga kurang teliti sewaktu membaca syarat dan ketentuan lomba sehingga merasa lebih banyak dirugikan ketimbang diuntungkan:’) Tidak sedikit juga yang diloloskan tapi tidak berkabar lagi :’) ((Oh naskah sayaaa :) Kembalilah, Sayang :’))) Jadi, kalian harus teliti ketika membaca dan melakukan apa pun, ya! ((Jangan seperti saya))
Sampai di sini, saya senang sekali karena bisa konsisten menulis dan “memerangi” lingkungan saya. Jadi, jangan menyerah, ya! Nanti kalau mimpi dan cita-cita saya ada yang terwujud lagi, akan saya ceritakan lagi ;-) Semangat berjuang!!! ((Sengaja ditulis semangat berjuang karena selamat berjuang sudah biasa :D siapa tahu kalau kata “semangat” bisa membulatkan tekad dan lebih bersikeras memperjuangkan yang ingin didapatkan. Semangat!!!))

Jumat, 09 Februari 2018

Seminar Motivasi Menulis: Literasi Di Era Digital 2018



Halo, Teman-teman! Bulan Februari sudah punya agenda belum? Kalau belum, menimba ilmu bareng-bareng, yuk, di acara... SEMINAR MOTIVASI MENULIS: LITERASI DI ERA DIGITAL


Hari/tanggal : Ahad, 18 Februari 2018
Tempat : Aula Kementrian Agama Sidoarjo (Jl. Monginsidi No 3 Sidoarjo)

Pembicara :
1. Sinta Yudisia, S.Psi., M.Psi.
Psikolog, Penulis Buku, Dewan Pertimbangan Forum Lingkar Pena (FLP)
2. Arul Chandrana
Guru, Penulis Buku, Youtuber

HTM : 15k

Fasilitas :
1. Snack
2. Door prize
3. Sertifikat

Pendaftaran :
Nama_asal sekolah/universitas_no WA

kirim SMS/WA ke :
1. Alfimanzila 089518342736
2. Ramadhan Rahma 085853043299

Uang pendaftaran bisa ditransfer ke
BRI Syariah 1028624979 a.n. Rohmah Barokah

Seminar ini tidak hanya khusus daerah Sidoarjo, lho! Kalian yang tinggal di Surabaya dan sekitarnya juga bisa ikutan, lho!

Oh ya, ada acara Open Recruitment untuk FLP Sidoarjo juga, lhooo ;)) Nah, yang ini khusus untuk warga Sidoarjo saja, ya :)) Di kota lain juga ada FLP kok :))

FLP itu apa sih? Forum Lingkar Pena. Organisasi kepenulisan yang bertujuan untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat melalui tulisan. Gimana tuh maksudnya? Yuk, cari tahu dengan cara mengikuti seminar ini! See you, Guys! ;))

Selasa, 24 Oktober 2017

MUNGKINKAH TERULANG KEMBALI?



Kaki berlari tanpa alas
Langkahnya cepat tak terbatas
Tak dipedulikannya keringat yang rebas
Matanya menatap lurus
Fokus

Senyum pun merekah
Wajah tak buncah
Tangan melambai lincah

Dipanggilnya teman sebaya
Diajaknya berlari bersama
Selagi senja masih bersahaja
Masih tersisa sebelum magrib tiba
Sebelum Ayah dan Ibu beradu suara
Meminta kembali ke rumah

Masa itu bisakah kembali?
Saat dunia masih menyayangi
Sepenuh hati
Saat semua orang memotivasi
Bukan berlomba-lomba membidik diri
Lalu menghakimi
Menghabisi diri ini
Enyah dari muka bumi

Lalu mereka tertawa keras
Tanda puas
Musuh tewas

Masa itu bisakah kembali?
Saat terjatuh
Bukan hati yang terluka
Saat berdarah
Luka bisa mengering dengan sendirinya
Saat terluka
Bukan obsesi bunuh diri yang melanda

Saat aku, kau, dan semuanya
Menghabiskan waktu bersama
Menyambit layangan orang
Mengejar layangan putus
Memakai baju kardus
Berbando ilalang
Bersayap daun belimbing
Berkejaran dengan pesawat
Sekaligus meminta uang

Saat di pikiran kita hanyalah bermain
Bukannya cinta
Yang membutakan segalanya
Bukan hati orang yang dimangsa

Saat aku, kau, dan semuanya
Belum mengenal sisi duka
Dari sakitnya jatuh cinta
Masa itu bisakah kembali?

Sidoarjo, 22 10 17
Perindu Masa Kecil
Inka Ayu P.

Lapar? Makan GALAU saja!



Salah satu makanan sehat yang tidak boleh dilewatkan adalah si GALAU, alias, Gado-gado enak lah yau! Gado-gado satu ini sangat disayangkan untuk dilewatkan. Selain menyehatkan, tentu juga mengenyangkan. Apalagi dengan porsi yang cukup banyak. Hmm ... jadi lapar dan pengin cepat-cepat makan ya! Eits, sabar, sabar, antre dulu ya!

Pedagang kaki lima satu ini berbeda dengan pedagang kebanyakan. Apa yang membuatnya berbeda? Mari kita kupas satu per satu.

Pertama, penjual berjenis kelamin laki-laki ini sangat menjaga kebersihan dagangannya. Terbukti dengan rombong atau tempatnya berjualan yang bersih dan sedap dipandang.
Kedua, penjualnya ramah. Pembeli dipersilakan untuk duduk, sedangkan si penjual sibuk menyiapkan porsi yang sudah dipesan. Biasanya, kan, si pembeli harus menunggu sambil berdiri, nah, si Bapak ini justru mengantarkan gado-gadonya ke pembeli lho! Baik, kan, Bapaknya? Iya, dong. Jadi penjual harus ramah, biar laris manis-nis-nis.
Ketiga, penjualnya murah hati, alis tidak pelit. Tentu ada beberapa pedagang yang tidak memberikan banyak bumbu untuk dagangan mereka. Selain untuk mengantisipasi kurangnya bumbu, (mungkin) juga tidak ingin rugi. Tetapi Bapak yang satu ini, tidak tanggung-tanggung untuk membubuhkan bumbunya ke dalam porsi dagangannya. Bukan cuma bumbu yang melimpah, kerupuk pun juga. Bahkan ditemani dengan keripik melinjo juga lho! Paket komplet deh pokoknya. Sambal juga tidak boleh ketinggalan, biar lebih nikmat.

Penasaran? Pengin coba? Yuk, beli!
Nah, untuk yang kepo di mana si Bapak berjualan, bisa banget dijumpai di depan kampus Universitas Muhammadiyah Sidoarjo. Tepatnya di Jalan Mojopahit 666 B Sidoarjo. Untuk pangkalan yang lain, bisa tanya langsung ke Bapaknya ya ahaha.

Minggu, 15 November 2015

"Bersyukurlah!"

Prolog
Matanya berkedip dengan jeda durasi panjang. Pikirannya terasa teramat hampa, hati, jiwa serta semangatnya terasa hambar tak berupa, tak berpancar bagai rembulan di tengah gelapnya malam. Entah hal apa yang membuatnya termenung dan terpaku pada langit-langit kamarnya yang tidak beraturan warnanya.
Perlahan, raut wajahnya mengering seolah kipas angin yang menempel di dinding benar-benar telah menyihirnya menjadi batu. Tubuhnya sama sekali tak bergerak kecuali matanya yang terus berkedip, dada dan hidung yang mengembang-kempis serta embusan napas yang mengalun tiap detik.
Entah apa yang tengah dilakukannya. Mungkinkah si gadis berambut sebahu, berparas manis, dan berkulit kekuningan ini sedang memikirkan atau bahkan mengkhayalkan sesuatu yang akan terjadi atau justru mengada-ada dengan merekayasa kenyataan esok atau bahkan suatu hari nanti.
Sudah hampir dini hari, ia masih tetap terjaga. Padahal kedua orang tua serta adiknya telah tertidur pulas tanpa tahu menahu si kakak yang masih terjaga di kesunyian malam.


Satu
Sepanjang jalan tikus itu di penuhi dengan rumah-rumah yang bersebelahan dan juga berseberangan. Rumah sederhana yang berada di tengah jalan tikus itu nampak sunyi setelah sang ayah dan si kakak pergi ke tujuan masing-masing. Sementara si adik baru saja bersiap-siap untuk pergi diikuti pula sang ibu yang juga bergegas berbelanja ke pasar di ujung jalan raya seberang.
Caca, nama gadis itu. Ia duduk di bangku kelas 2 SMA di SMA Nisayama. Tubuhnya memang sangat kurus dan kecil. Tidak seperti orang pada umumnya. Meski demikian, ia tidak suka dibilang "pendek" tidak sopan, tidak menghargai dan terlalu menyakitkan katanya. Memang benar, sebutan "pendek" terkesan menjelekkan meski kenyataan fisiknya begitu. Namun masih ada sebutan yang bisa diterima dengan baik olehnya, "kecil."
Adik Caca bernama Kiko, duduk dibangku kelas 2 SD. Ia sangat bandel dan tidak suka dilarang. Meski demikian, pasangan suami istri Yuka dan Yoko tetap menyayangi kedua buah hatinya. Yuka yang sebelumnya bekerja, kini harus berhenti sejak kelahiran Kiko dua tahun lalu. Sementara Yoko bekerja sebagai supervisor di perusahaan swasta. Dengan gaji pas-pasan, keduanya hidup serba sederhana. Keduanya sama-sama berusaha sekuat tenaga agar Caca bisa tumbuh tinggi dan berisi sesuai usianya.

Dua
Halaman sekolah nampak asri, rindang, dan sedap di pandang. Caca  baru saja berjalan menuju ruang kelasnya.
"Hei, lihat ! Dia kurus sekali, pendek pula, kerdil." celoteh Beni.
"Bener-bener. Udah kurus, pendek, kerdil pula," sambung Tito.
"Lunglit doang ya? Aduh, kasihan.. Di kasih makan nggak sih?" cetus Riko. Beni, Tito, dan Riko memang setali tiga uang. Ketiganya sama-sama suka menghina orang.
Merah padam wajah gadis yang semula terlihat manis dan ceria karena baru memulai hari pagi yang cerah. Kini justru di jajah oleh teman sebayanya yang memang terkenal dengan kekayaan dan tinggi badan yang seimbang.
Gadis itu buru-buru pergi dengan wajah yang penuh amarah serta hati yang membara.
"Caca, tunggu!" teriak seorang gadis yang baru saja melihat Caca melesat pergi sekaligus mendengar hinaan dari trio cool.
"Dasar keterlaluan ! Kalian akan kena karma !" kata Hera yang juga turut merasa geram. Ia segera berlari mengejar Caca, temannya.
"Sudah Ca, jangan dimasukkan ke hati. Anggep aja nggak terjadi apa-apa pagi ini," Caca bergeming. Seolah telah menikmati rasa sakit atas ucapan yang sama sekali tidak berwujud rasa syukur terhadap Tuhan yang menciptakan mereka. Namun kerap kali membuat Caca merasa sial dan menyesal dengan kenyataan yang sangat buruk.
"Ca, percaya sama aku. Yakinkan dirimu jika tiap perbuatan pasti ada balasannya. Kamu nggak perlu membalasnya. Kamu cukup berdoa sama Allah SWT, supaya kamu dikuatkan, mereka disadarkan, dan kamu berubah total. Keep spirit dong Ca. Caca pasti bisa."
Mendengar pernyataan temannya, Caca terisak. Hera menghapus air mata Caca. "Udah, jangan nangis. Senyum dong Ca. Senyummm," kata Hera seraya menggerakkan kedua jari telunjuknya dan menggerakkan bibir Caca untuk tersenyum.
"Caca," panggil guru matematika. Caca yang sibuk membaca soal, kini mengacungkan tangan diantara teman-temannya yang berdiri . "Caca," panggil Pak Dwi kedua kali. Caca mengacungkan tangan lagi tanpa berpaling dari bukunya.
"CACA !" teriak Pak Dwi terdengar garang. "Dimana Caca?" sambung Pak Dwi. Teman-teman Caca mulaqi kembali ke tempat masing-masing.
"CACA !" teriak Pak Dwi lagi. "Ya, Pak?" sahutnya lembut.
"Kemana saja kamu? Dipanggil tidak angkat tangan malah diam saja. Telinga kamu dimana?"
"Maaf pak, saya sudah mengangkat tangan sejak pertama kali bapak memanggil saya."
"Mana buktinya? Saya tidak melihatnya."
"Tapi pak.. Eh aku tadi sudah angkat tangan kan?"
"Aku nggak lihat Ca. Aku lagi cari bolpen tadi," kata Hera.
"Makanya, kalau angkat tangan yang tinggi. Kalau bisa berdiri biar kelihatan. Masak, kelas 2 SMA badannya segitu. Kapan kamu tinggi!"
Caca merasa pedang yang tajam baru saja menusuk tubuhnya hingga berdarah dan menciut. Ia tak habis pikir mengapa orang-orang tidak bisa menghargai ciptaan Tuhan mereka sendiri. Padahal setiap orang sudah diciptakan dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Ya Allah, kuatkan aku, gumamnya lalu pergi meninggalkan kelas tanpa seizin Pak Dwi.
Ini bukan pertama kali Caca dihina guru. Entah sudah berapa banyak guru yang membuatnya terluka dengan berbagai rangkaian katanya.
                   ***
Sepanjang menyusuri jalan menuju rumah, berbagai hinaan terdengar silih berganti menerobos telinga Caca. Dengan tubuh yang minim, Caca yang berseragam putih abu-abu menjadi bahan ejekan orang. Caca merasa menciut dan mempercepat kakinya mengayuh sepedanya. Ia tiba-tiba saja berhenti ketika melihat gadis yang sebaya dengannya hendak menyeberang jalanan ramai. Caca buru-buru menghampiri dan membantu untuk menyeberang. Dengan sebilah tongkat, dan lengan Caca yang melingkar dibahunya, ia menyeberang dengan selamat di jalan seberang.
"Sudah sampai," kata Caca. Gadis itu mengerahkan tangannya membentuk gerakan yang tidak dimengerti oleh Caca. Caca bersih keras untuk mencerna sandi yang diisyaratkan gadis itu. "Dia bilang terima kasih neng," kata orang yang baru saja melewati dua gadis diseberang jalan. Gadis itu mengangguk. "Oh ya sama-sama," kata Caca seraya tersenyum. Sepintas ia lupa jika banyak hinaan yang telah menghujam tubuhnya.
"Makasih bang," teriak Caca. Pemuda itu mengacungkan jempol pada Caca.
"Aku pulang dulu ya. Hati-hati di jalan," kata Caca lalu berdiri meninggalkan gadis tadi.
Jadi, dia buta dan bisu? Malang sekali. Tuh Ca bersyukur. Masih bisa melihat, masih bisa ngomong. Di luar sana masih banyak yang kurang beruntung. Maafin Caca Ya Allah...
              ***

Read more : https://www.wattpad.com/story/54233232-bersyukurlah


Sebagian 2025

Awal tahun 2025 menjadi pembuka untuk memulai pelajaran baru, dalam rangka menambah kemampuan. Kali ini dimulai dengan mengikuti workshop pe...