"Ya ampun, ini belum dikerjain."
"Lho, yang itu juga belun dikerjain."
"Buset, besok deadline-nya!"
"Banyak banget sih yang harus dikerjain?!"
"Bikin stressssss!"
Tenang. Sabar.
Tenang katamu?
Sabar katamu?
Coba sini jadi aku! Apa kamu bisa handle semua itu?!
Memangnya kamu habis ngapain aja?
Nyantailah. Libur, kan? Masa mesti ngapa-ngapain terus?! Kan aku juga manusia!
Tenang. Nggak usah ngegas. Atur napas aja dulu. Sini saya kasih tips sederhana untuk mengurangi bahkan melepaskan stress.
1. Mengaji
Saat serangan pikiran datang bertubi-tubi dan mulai menyerang hati serta mood, saya coba untuk mengaji. Satu-dua surat rasanya bisa mengurangi stress, hatu dan pikiran terasa lebih jernih setelah keruh sebelumnya. Coba deh, ngaji daripada marah-marah dan sambat sana-sini.
2. Atur Napas
Sebelum marah-marah, kamu bisa atur napas dulu untuk menjernihkan pikiran dan hatimu yang mungkin amat keruh. Ya, mungkin dengan atur napas nggak bikin stressmu langsung hilang. Tapi lumayan kan kalau sedikit terasa melegakan.
3. Berhenti chatting, cheating, stalking, dan updating di sosmed
Kadang, stress justru membuat orang menghabiskan waktu untuk chatting dan updating status di sosmed dengan beragam tujuan: salah satunya mungkin biar diperhatiin. Iya, kalau diperhatiin. Kalau nggak? Yah, sakit hati deh.
Cheating: nyakiti orang lain dengan mempermainkan dia, mengatasnamakan secara tersirat bahwa kamu sedang stress dan butuh pelarian. Kamu jangan jahat dong :-( memangnya mau dijadiin pelarian juga? :-(
Stalking: terganung stalking apa dulu sih ya. Kalau stalking yang bikin toxic, ya gimana bisa ngurangi stress? Boro-boro berkurang, yang ada makin nambah! Kalau stalkingnya positif, bisa jadi stressmu berkurang. Semuanya tergantung kamu.
Minggu, 16 Juni 2019
Sabtu, 06 April 2019
Bandung Punya Cerita - Bagian Lima
09 November 2018.
Kami masih di Bandung. Dan perjalanan belum berakhir. Ini masih hari kedua dari sekian hari yang akan kami habiskan di Bandung. Pagi ini kami menuju ke salah satu universitas ternama di Bandung. Coba tebak, universitas apa? Nggak tahu? Universitas di Bandung banyak?
Baik, akan saya beri petunjuk. Kampus ini terletak di Jalan Raya Bandung Sumedang Km 21.
Lebih tepatnya di Jatinangor. Jadi, apa nama kampusnya?
Yap, Unpad!
Universitas Padjajaran.
Pagi itu kami menimba ilmu di acara seminar. Jarak tempuh dari gerbang utama ke Bale Sartika, ternyata juga lumayan kalau jalan kaki. Kami menimba ilmu selama beberapa jam di Bale Sartika. Duduk di kursi empuk yang dilengkapi dengan meja lipat yang terletak di lengan kursi. Seminar nasional ini adalah bentuk kerja sama antara Unpad, IAI, dan juga Umsida. Kami juga melaksanakan salat zuhur di masjid kampus. Beruntung, jaraknya dekat dengan Bale Sartika. Kalau jauh, sia-sia makanan yang sudah kami santap seusai seminar, hehe.
Sebagai seorang yang suka berimajinasi, pikiran saya mulai ke mana-mana selama berjalan ke masjid dengan melewati berbagai medan yang memang lebih tinggi letaknya dibandingkan jalan raya. Mulai dari pikiran positif sampai yang paling negatif, senang sampai merinding karena “imajinasi horor” itu sempat mampir tanpa diminta. Ya, kadang saya risi kalau ada yang datang tanpa diundang dan susah pergi.
Destinasi berikutnya, rombongan kami berpencar sesuai dengan pembagian kunjungan ke perusahaan. Saya dan teman satu bus mengunjungi perusahaan yang memproduksi kue kering. Selama perjalanan menuju dan sudah di Bandung, pesan yang saya terima di WhatsApp pun beragam. Salah satunya, sore itu, seputar hujan lebat di Sidoarjo, juga yang menimpa wilayah lain. Tak lama setelah sekilas membaca pesan itu, Bandung diguyur hujan. Awalnya hanya rintik kecil yang juga membentur jendela bus. Kemudian berubah menjadi rintik besar dan jalanan sudah basah begitu saja.
Area untuk parkir bus becek sore itu. Hujan masih terus turun dan kami harus oper kendaraan menggunakan shuttle atau len—kalau di Sidoarjo. Hawa di Bandung terasa makin dingin seiring dengan perjalanan kami.
Setiba di J and C Cookies, kami memasuki area steril. Sembari menunggu bergantian mengelilingi pabrik kue kering ini, kami juga bisa menggali infomasi ke pegawai untuk memperoleh data yang kami butuhkan dalam pengerjaan laporan nantinya. Setiap rombongan yang akan mengelilingi pabrik untuk melihat proses produksi hingga pengemasan, mengenakan jas putih dan juga masker. Mesin-mesin yang ada di sana pun terlihat masih bagus. Dari penjelasan pegawai di sini, perusahaan ini juga mempekerjakan warga sekitar apabila telah masuk masa produksi.
Psst, perjalanan di Bandung kami belum usai! Tunggu cerita selanjutnya ya!
Psst, saya nggak sabar dengan destinasi-destinasi lainnya di itinerary!
Sidoarjo, 5/4/19
Ttd,
Perindu Bandung
Jumat, 21 Desember 2018
Bandung Punya Cerita - Bagian Empat
Memasuki
bus untuk melanjutkan perjalanan lagi, saya mulai merasa kurang fit. Semakin
cemas saat tenggorokan kering dan mulut terasa pahit. Nggak, dua hal
menyebalkan itu nggak boleh nyamperin
saya. Nggak boleh. Nggak mau tahu gimana caranya. Akhirnya saya memilih untuk
minum dalam beberapa menit sekali, sambil berharap untuk tidak buang air kecil.
Saya mengubah posisi duduk berkali-kali ketika mulai merasa tidak nyaman.
Berusaha tidur dan alhamdulillah, di bus yang dilengkapi bantal leher ini, saya
bisa tidur dengan mudah dan sesering mungkin, wkwk. Ya, daripada melek tapi
ngerepotin orang ya kan?
Begitu
bus berhenti, saya berusaha segera turun. Rasanya, kedua hal menyebalkan itu
mendobrak diri dan minta dikeluarkan. Yang benar saja! Akhirnya saya berjongkok
di antrean toilet. Dan di sana, entah ada berapa orang yang dikalahkan oleh dua
hal tersebut. Saya makin khawatir dan merasa sial. Tapi saya memejam sambil
menyugesti diri: saya pasti kuat. Itulah mengapa saya pernah bilang bahwa
perjalanan Sidoarjo-Bandung bukan perkara mudah.
Oke,
sesi curhat sudah selesai.
Berikutnya
kami antre untuk memasuki area Saung Angklung Udjo. Entah ini beruntung atau
sial karena kami berkunjung malam hari, yang membuat sekitar gelap dan pemandangan
tidak sejelas tadi. Tapi, di sini juga ada kios suvenir. Di sepanjang jalan
untuk antre pun ada suvenir yang narik-narik saya untuk membungkusnya, wkwk.
Saya harus kuat tahan godaan, haha. O ya, ada yang unik dari SAU. Bukan tiket
berupa kertas atau gelang yang dipakai di tangan, tapi kami mendapatkan kalung
berbentuk angklung mini. Selain itu, juga ditawarkan air mineral atau es
krim. Saya pilih air mineral lah. Saya kan nggak bisa jauh darinya, wkwk. Eh,
ini serius.
Kami
berjalan ke gedung terbuka dengan tribun yang melingkar. Dosen pendamping kami
bilang bahwa akan ada sesi bermain angkung bersama dan saya tidak sabar!
Saung
Angklung Udjo sendiri ialah sanggar seni sebagai tempat pertunjukan seni,
laboratorium pendidikan sekaligus sebagai objek wisata budaya khas daerah Jawa
Barat dengan mengandalkan semangat gotong royong antarsesama warga desa.
SAU
didirikan pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena (Alm)--yang akrab dipanggil Mang
Udjo--dan istrinya, Uum Sumiati. SAU berusaha mewujudkan cita-cita dan harapan
Abah Udjo (Alm) yang atas kiprahnya dijuluki sebagai Legenda Angklung, yaitu
Angklung sebagai seni dan identitas budaya yang membanggakan (Sinopsis
Pertunjukan Bambu).
Berdasarkan
lembaran sinopsis yang kami terima, pertunjukan bambu SAU ada beberapa macam.
Ada demonstrasi wayang golek yang umumnya pementasan ini berlangsung lebih dari
tujuh jam, yaitu pada malam hari, semalam suntuk sekitar pukul 20.00 sampai
04.00 WIB. Tak hanya itu, ada pula heleran, tari tradisional: tari topeng, angklung
mini, arumba, angklung massal nusantara, dan bagian favorit saya: bermain
angklung bersama.
Untuk
pertama kalinya saya memegang angklung! Setelah sekian lama hanya melihatnya di
televisi maupun ponsel. Nah, sekarang, kami tidak hanya memegang, tapi juga
dibimbing bagaimana cara memainkan angklung. Ternyata cukup sederhana. Tangan
kiri memegang tangkai kiri atas, sedangkan tangan kanan memegang pangkal kanan,
lalu digerakkan, maka bambu dengan letak berongga yang ada di setiap blok akan bergeser,
berbenturan, dan menghasilkan bunyi.
Eits,
pertunjukan belum berakhir, tapi hujan mendadak turun dengan derasnya. Percikan
air sampai terasa mengenai diri. Untungnya, di tribun ini tidak
bocor--sepenglihatan saya. Namun, hujan tak mengurangi kadar keceriaan kami sambil menyaksikan pertunjukan yang ada. Terlebih, angklung orkestra. Kami
bernyanyi bersama diiringi dengan angklung yang dikombinasikan dengan alat musik
seperi gitar, perkusi, dan lain-lain. Bahkan di akhir pertunjukan, para pengisi
pertunjukan mengajak para penonton untuk turun dari tribun dan menari bersama di
depan panggung.
Sidoarjo,
07/12/18
Ttd,
Perindu
Bandung
Kamis, 20 Desember 2018
Bandung Punya Cerita - Bagian Tiga
Setelah
penjelajahan di Floating Market berakhir, kami melanjutkan perjalanan ke Farm
House. Kami mendapatkan selembar tiket bergambar botol susu dan juga yang dalam
kemasan gelas. Di sini ada spot-spot foto yang berbayar. Berhubung saya tidak
ke spot tersebut dan tidak bertanya, maka saya tidak tahu berapa biaya masuknya,
haha.
Di
pelataran Farm House, ada beberapa kios dengan gaya unik, yang menjual beragam
dagangan. Mulai dari makanan dan minuman, pernak-pernik, dan juga bunga-bunga.
Sebelum
masuk, saya berfoto dengan teman sekelas, lalu lanjut dengan teman setim.
Ketiga teman saya menukarkan voucher tersebut ke kedai susu berdinding putih,
pun dengan pembatas untuk jalur antre dan keluar. Saya tidak menukarkan
voucher, sebab tidak ingin minum susu demi menjaga kesehatan tubuh, wkwk. Alias
tak mau repot dengan dua hal menyebalkan yang harus dijaga demi tidak
merepotkan siapa pun, termasuk diri saya sendiri.
Memasuki
Farm House, kami disambut dengan dinding dari tumbuhan, lalu beberapa bunga,
juga ada air terjun mini. Kemudian ada taman, juga bangunan-bangunan besar
dengan gaya arsitektur Eropa. Di area ini juga ada banyak kios yang bisa
dikunjungi dan barangnya boleh dibawa pulang, asalkan dibayar dulu. Yaiyalah,
haha.
Di
area ini juga ada tempat sewa kostum khas seperti orang Eropa dengan gaun yang
lebar dan mengembang. Juga ada kostum untuk laki-laki. Ada spot untuk foto juga
di lantai dua yang tempatnya terbuka dan terlihat bagus. Atau bisa juga
berkeliling untuk mencari spot foto yang sesuai dengan kostumnya.
Di
tempat berikutnya, setelah kafe dengan eksterior bangunan yang ciamik, ada
tempat bersantai juga di lantai dua. Ada beberapa pohon yang menaungi, juga
tempat duduk yang biasa digunakan untuk berjemur.
Selanjutnya,
ada spot yang tak kalah menarik, bangunan kecil serupa rumah dengan eksterior
yang cantik untuk diabadikan dengan kamera. Di masing-masing rumah
tersebut juga ada nama, salah satunya Farmers Market--yang sayangnya saya
lewatkan karena di sana ramai. Saya hanya melihat sekilas, memotretnya, lalu
beralih ke lokasi lain.
Di
tempat yang baru saja saya pijaki ternyata cukup tinggi. Pagar hitam memberikan
batas bagi pengunjung untuk tidak melampauinya. Kecuali pengunjung tersebut
ingin mengakhiri hidupnya dengan terjun bebas ke area persawahan yang dibingkai
pepohonan. Jangankan terjun, melihat sekilas, bersandar di pagar pun saya merinding. Sebagaimana si overthinking sekaligus overnegativethinking, pikiran saya jelas ke mana-mana dan menjurus ke "sana". Maka, setelah merasa cukup untuk memotret, saya segera menjauh dari tapal batas. Saya masih mau hidup.
Ps. Ini masih hari petama dan perjalanan belum berakhir!
Nantikan kelanjutan ceritanya, ya!
Sidoarjo,
02/12/18
Ttd,
Perindu
Bandung
Kamis, 06 Desember 2018
Cara Mengelola Rasa Iri a la Inka
Kira-kira, berapa banyak manusia yang tidak iri terhadap orang lain, ya? Mungkin jumlahnya jauh lebih kecil daripada orang-orang yang iri. Apalagi kalau rasa iri ini tidak dikelola dengan baik, tentu bisa menjadi petaka.
Lantas, bagaimana cara mengelola rasa iri, bahkan menaklukkannya?
Tak bisa saya pungkiri, meski sebetulnya enggan saya akui bahwa salah satu cita-cita saya adalah menjadi penulis dan menerbitkan banyak buku, terutama karya sendiri atau buku solo. Namun, sudah bertahun-tahun menulis--meski mungkin lamanya saya belajar menulis belum setara dengan penulis senior atau yang sudah berpengalaman--belum ada buku solo yang terbit. Mayoritas karya saya yang terbit adalah dari banyak karya orang yang dikumpulkan, lalu dibukukan. Atau lebih familier disebut sebagai buku antologi.
Beberapa tahun lalu saat penerbit-penerbit besar--berbadan hukum, atau lebih dikenal dengan sebutan penerbit mayor atau yang tidak memungut sepeser pun biaya untuk menerbitkan buku--belusukan atau menyelam di dunia oranye atau Wattpad. Kemudian banyak karya-karya yang "dipinang". Diterbitkan. Apalagi dengan label "telah dibaca sekian juta kali di wattpad", saya minder. Makin ke sini kian minder. Tambah minder lagi saat viewers atau readers, juga followers adalah ladang "laba". Yap, perusahaan mana sih yang nggak mau dapat profit? Nggak ada kan? Nah, itu, saya sudah coba beragam cara, tapi followers, readers, juga viewers saya tetap sedikit di dunia oranye. Tidak sampai 300 orang. Makin-makin minderlah saya, haha. Lalu perlahan melupakan ambisi untuk menerbitkan buku sampai sekarang, huhu. Tapi masih berharap dan berusaha juga agar bisa terwujud.
Nggak cuma di situ. Hal itu juga saya barengi dengan melamar penerbit. Yas, saya menawarkan atau mengajukan naskah sejak beberapa tahun lalu. Masa tunggu jawaban dari lamaran saya pun beragam, mulai kurang dari satu bulan sampai bertahun-tahun! Iya, untuk memperoleh konfirmasi "diterima dan akan diterbitkan atau ditolak dan tidak atau belum cocok untuk diterbitkan" bisa memakan waktu selama itu. Kudu suabaaar, huhu. Apalagi untuk calon penulis yang belum punya "nama".
Halah, kan bisa dilupain.
Apa? Dilupain kamu bilang? Masa sih, kamu bisa secepat itu lupa kalau habis menyatakan cinta tapi belum dapat jawaban apa-apa sampai segitu lamanya. Masa sih nggak kepikiran bakal dijawab gimana, atau ungkapan perasaanmu itu dianggap atau diperlakukan seperti apa...
Gimana? Bisa secepat itu melupakan? Enggak, kan? Haha.
Bahkan prinsip yang saya temukan entah di mana dan lupa: tulis, kirim, lupakan. Agaknya berpengaruh. Lumayan, nggak stress-stress amat, wkwk. Berasa melamar calon pendamping hidup beneran kan?
Jadi, gimana jawaban atas lamaranmu, Ink?
Ditolak! Entah sudah berapa kali ditolak! Terus diajuin lagi. Ditolak! Terus diajuin lagi. Kurang sabar apa saya tuh, disakiti tapi nggak kapok wkwk, meskipun galau dulu dong berhari-hari. Sambat dulu dong. Nangis dulu dong. Marah-marah dulu dong, sebelum akhirnya bisa move on! Yay! Bisa move on itu salah satu anugerah terindah lho! Apalagi dapat dukungan lagi dari teman-teman.
Lalu saya balik lagi ke diri sendiri. Mempertanyakan apa yang sempat dibulatkan dan seambisius itu. Sebetulnya, apa yang saya cari dari nerbitin buku itu? Tenar? Royalti? Sombong? Pamer? Atau apa?
Kemudian saya berkaca lagi. Menarik diri lagi. Menjauh dari segala yang saya ambisikan. Setelah sempat merasa pantas, tapi nyatanya tidak. O, bukan tidak. Mungkin hanya belum. Semua butuh waktu. Semua butuh proses. Dan saya juga tak ingin menulis omong kosong. Apalagi kalau omong kosong itu dibaca banyak orang. Bisa-bisa marah atau malah bikin dosa jariyah. Astagfirullah. Naudzubillahi mindzalik.
Nggak cuma masalah nerbitin buku. Selain di dunia perbukuan dan penerbitan itu, buanyak hal yang membuat saya iri. Contoh: teman-teman punya ini-itu baru, sedangkan saya nggak gitu. Teman-teman dapat ini-itu tanpa susah payah, sedangkan saya mesti berusaha ekstra, dan sebagainya.
Lantas, apa yang saya lakukan?
1. Menarik diri atau jaga jarak dari segala kegiatan
Sepulang kuliah, langsung pulang. Atau kalau pagi, sampai di kampusnya telat atau mepet jam masuk. Jaga jarak sama organisasi-organisasi beserta anggotanya. Pokoknya nggak banyak ketemu dan ngobrol sama orang! Tujuannya apa? Untuk mengurangi obrolan sama teman-teman yang berpotensi menyakiti hati. Apalagi saya orangnya sinis dan ketus ya kan. Yang dikhawatirkan dari ketemu sama subjek yang diiri-in ataupun teman-teman? Saya gelap mata, haha. Makanya nggak mau lama-lama, wkwk.
2. Menyendiri dan merenung
Untuk memikirkan lagi kenapa saya iri? Kenapa harus seiri ini? Kenapa harus sesakit ini? Dan hal-hal negatif dan meremehkan si subjek tadi.
Kemudian mulai berusaha berpikir jernih. Apa saya bisa seperti dia?
Untuk berkaca lagi.
Apa saya sudah pantas dengan kemauan saya yang seperti ini? Siapa yang akan mendukung saya? Saya kan nggak punya pac*r, sahabat, dan kawan-kawannya seperti dia. Terus berusaha memupuk diri untuk bertumbuh dan berkembang.
3. Kokohkan pondasi
Nggak mau dong, tenggelam dalam keterpurukan? Ya nggaklah.
Nggak mau dong, lukanya nggak segera kering? Ya nggak mau lah. Lalu, ngapain? Ya BERUSAHA dong! Berusaha yang gimana? Pertama, NIAT! Niatkan semua yang akan dilakukan adalah hanya KARENA ALLAH. Bukan untuk dipuji orang tua, pac*r, sahabat, orang yang bikin iri, dosen, gebetan, selingkuhan, dan sebagainya. Lakukan dengan tulus. Sebisa mungkin tidak berharap bahwa apa yang kita lakukan untuk orang lain, kemudian mereka akan bersedia melakukan hal yang sama seperti yang kita lakukan. Nggak! Nggak semua orang bersedia seperti itu. Bagaimana cara melihat ketulusan? Saya... Nggak tahu. Sejauh ini, belum pernah saya temui orang yang benar-benar tulus, sekalipun itu kedua orang tua. Mengapa, sebab masih saya dengar "minta imbalan", meski memang sudah seharusnya diberi imbalan.
4. Lakukan! Tunggu apa lagi?
Yap, MELAKUKAN apa yang sudah seharusnya dilakukan. Mau nerbitin buku, ya nulis dulu, direvisi, lalu dikirim dengan niat dan doa yang baik, meski mungkin hasilnya nggak baik. Lalu PASRAHKAN kepada ALLAH! Serahkan semuanya. Percayalah bahwa Allah akan memberikan yang terbaik. Ingat, Allah menjawab dengan tiga hal: ya, tidak, dan diganti dengan yang lain. Nggak semua yang kamu harapkan sekarang bisa terwujud saat ini juga kan? Itu. Sabar. S-A-B-A-R. Jangan kayak saya yang nggak sabaran, haha.
5. Jangan menyerah
(Jangan kayak saya, haha, sedikit gampang nyerah, wkwk, payah!) Iya dong, JANGAN NYERAH dong. Sesulit apa pun keadaan, semua pasti ada jalan keluar. Percayalah! ALLAH TIDAK TIDUR, Sayang. Pasti akan Allah beri, meski tidak saat itu juga. Dan, sudah banyak bukti, kan, kalau usaha takkan mengkhianati hasil?
Apa? Kamu masih iri juga? Malah makin-makin panas sampai hatimu kebakaran?
Waduh, gimana lagi ya?
Mmm.
6. Bertanya pada subjek yang bikin kamu iri
Yuhuuu, saya sudah pernah melakukannya! Meski sulit, malas, dan jijik setengah mati, wkwk. Ternyata setelah ngobrol, sayanya aja yang pendengki wkwk. Dan senang karena responsnya bagus. Lalu diam-diam, dalam hati saya mengiakan: pantas sukses, dia orangnya begini. Saya mah apa, serpihan bumbu balado di janjanannya :v Ada banyak tipe manusia, kan? Kadang, ada yang mesti diminta dulu baru dikasih. Kadang ada yang belum ditanya tapi sudah dijelasin duluan. Yang tipe kedua nih, favorit saya! Saya tuh suka diceritain! Ceritainlahhh. Siapa tahu nanti saya tertarik untuk menuliskannya, ya kan?
7. Bersyukurlah
Menengadah, untuk melihat mereka yang lebih "berada atau berpunya", boleh. Menunduk, untuk melihat mereka yang (maaf) mungkin kondisinya di bawah kita, boleh. Asal nggak lupa menatap lurus lagi. Ingat lagi, berhasil atau tidaknya sesuatu, kita sudah berusaha entah itu seratus persen atau setengah hati. Dan yang lebih penting dari sekian banyak kerumitan yang kita terima, dan ini lebih mahal harganya, dan tidak boleh disia-siakan adalah...
Kesehatan.
Tanpa kesehatan, kita tentu tidak bisa beraktivitas normal. Bisa menghirup oksigen tanpa sesak napas dan alat bantu, adalah salah satu anugerah yang patut disyukuri. JANGAN LUPA BERSYUKUR! Bersyukur bisa dilakukan dengan banyak hal. Bisa dicari di google ya!
Sudah, itu dulu. Kalau ada tip lagi, saya update ya. Selamat iri! Eh, selamat malam maksudnya.
Sidoarjo, 6/12/18
Salam,
Si Iri yang Berusaha Menaklukkan Iri
Lantas, bagaimana cara mengelola rasa iri, bahkan menaklukkannya?
Tak bisa saya pungkiri, meski sebetulnya enggan saya akui bahwa salah satu cita-cita saya adalah menjadi penulis dan menerbitkan banyak buku, terutama karya sendiri atau buku solo. Namun, sudah bertahun-tahun menulis--meski mungkin lamanya saya belajar menulis belum setara dengan penulis senior atau yang sudah berpengalaman--belum ada buku solo yang terbit. Mayoritas karya saya yang terbit adalah dari banyak karya orang yang dikumpulkan, lalu dibukukan. Atau lebih familier disebut sebagai buku antologi.
Beberapa tahun lalu saat penerbit-penerbit besar--berbadan hukum, atau lebih dikenal dengan sebutan penerbit mayor atau yang tidak memungut sepeser pun biaya untuk menerbitkan buku--belusukan atau menyelam di dunia oranye atau Wattpad. Kemudian banyak karya-karya yang "dipinang". Diterbitkan. Apalagi dengan label "telah dibaca sekian juta kali di wattpad", saya minder. Makin ke sini kian minder. Tambah minder lagi saat viewers atau readers, juga followers adalah ladang "laba". Yap, perusahaan mana sih yang nggak mau dapat profit? Nggak ada kan? Nah, itu, saya sudah coba beragam cara, tapi followers, readers, juga viewers saya tetap sedikit di dunia oranye. Tidak sampai 300 orang. Makin-makin minderlah saya, haha. Lalu perlahan melupakan ambisi untuk menerbitkan buku sampai sekarang, huhu. Tapi masih berharap dan berusaha juga agar bisa terwujud.
Nggak cuma di situ. Hal itu juga saya barengi dengan melamar penerbit. Yas, saya menawarkan atau mengajukan naskah sejak beberapa tahun lalu. Masa tunggu jawaban dari lamaran saya pun beragam, mulai kurang dari satu bulan sampai bertahun-tahun! Iya, untuk memperoleh konfirmasi "diterima dan akan diterbitkan atau ditolak dan tidak atau belum cocok untuk diterbitkan" bisa memakan waktu selama itu. Kudu suabaaar, huhu. Apalagi untuk calon penulis yang belum punya "nama".
Halah, kan bisa dilupain.
Apa? Dilupain kamu bilang? Masa sih, kamu bisa secepat itu lupa kalau habis menyatakan cinta tapi belum dapat jawaban apa-apa sampai segitu lamanya. Masa sih nggak kepikiran bakal dijawab gimana, atau ungkapan perasaanmu itu dianggap atau diperlakukan seperti apa...
Gimana? Bisa secepat itu melupakan? Enggak, kan? Haha.
Bahkan prinsip yang saya temukan entah di mana dan lupa: tulis, kirim, lupakan. Agaknya berpengaruh. Lumayan, nggak stress-stress amat, wkwk. Berasa melamar calon pendamping hidup beneran kan?
Jadi, gimana jawaban atas lamaranmu, Ink?
Ditolak! Entah sudah berapa kali ditolak! Terus diajuin lagi. Ditolak! Terus diajuin lagi. Kurang sabar apa saya tuh, disakiti tapi nggak kapok wkwk, meskipun galau dulu dong berhari-hari. Sambat dulu dong. Nangis dulu dong. Marah-marah dulu dong, sebelum akhirnya bisa move on! Yay! Bisa move on itu salah satu anugerah terindah lho! Apalagi dapat dukungan lagi dari teman-teman.
Lalu saya balik lagi ke diri sendiri. Mempertanyakan apa yang sempat dibulatkan dan seambisius itu. Sebetulnya, apa yang saya cari dari nerbitin buku itu? Tenar? Royalti? Sombong? Pamer? Atau apa?
Kemudian saya berkaca lagi. Menarik diri lagi. Menjauh dari segala yang saya ambisikan. Setelah sempat merasa pantas, tapi nyatanya tidak. O, bukan tidak. Mungkin hanya belum. Semua butuh waktu. Semua butuh proses. Dan saya juga tak ingin menulis omong kosong. Apalagi kalau omong kosong itu dibaca banyak orang. Bisa-bisa marah atau malah bikin dosa jariyah. Astagfirullah. Naudzubillahi mindzalik.
Nggak cuma masalah nerbitin buku. Selain di dunia perbukuan dan penerbitan itu, buanyak hal yang membuat saya iri. Contoh: teman-teman punya ini-itu baru, sedangkan saya nggak gitu. Teman-teman dapat ini-itu tanpa susah payah, sedangkan saya mesti berusaha ekstra, dan sebagainya.
Lantas, apa yang saya lakukan?
1. Menarik diri atau jaga jarak dari segala kegiatan
Sepulang kuliah, langsung pulang. Atau kalau pagi, sampai di kampusnya telat atau mepet jam masuk. Jaga jarak sama organisasi-organisasi beserta anggotanya. Pokoknya nggak banyak ketemu dan ngobrol sama orang! Tujuannya apa? Untuk mengurangi obrolan sama teman-teman yang berpotensi menyakiti hati. Apalagi saya orangnya sinis dan ketus ya kan. Yang dikhawatirkan dari ketemu sama subjek yang diiri-in ataupun teman-teman? Saya gelap mata, haha. Makanya nggak mau lama-lama, wkwk.
2. Menyendiri dan merenung
Untuk memikirkan lagi kenapa saya iri? Kenapa harus seiri ini? Kenapa harus sesakit ini? Dan hal-hal negatif dan meremehkan si subjek tadi.
Kemudian mulai berusaha berpikir jernih. Apa saya bisa seperti dia?
Untuk berkaca lagi.
Apa saya sudah pantas dengan kemauan saya yang seperti ini? Siapa yang akan mendukung saya? Saya kan nggak punya pac*r, sahabat, dan kawan-kawannya seperti dia. Terus berusaha memupuk diri untuk bertumbuh dan berkembang.
3. Kokohkan pondasi
Nggak mau dong, tenggelam dalam keterpurukan? Ya nggaklah.
Nggak mau dong, lukanya nggak segera kering? Ya nggak mau lah. Lalu, ngapain? Ya BERUSAHA dong! Berusaha yang gimana? Pertama, NIAT! Niatkan semua yang akan dilakukan adalah hanya KARENA ALLAH. Bukan untuk dipuji orang tua, pac*r, sahabat, orang yang bikin iri, dosen, gebetan, selingkuhan, dan sebagainya. Lakukan dengan tulus. Sebisa mungkin tidak berharap bahwa apa yang kita lakukan untuk orang lain, kemudian mereka akan bersedia melakukan hal yang sama seperti yang kita lakukan. Nggak! Nggak semua orang bersedia seperti itu. Bagaimana cara melihat ketulusan? Saya... Nggak tahu. Sejauh ini, belum pernah saya temui orang yang benar-benar tulus, sekalipun itu kedua orang tua. Mengapa, sebab masih saya dengar "minta imbalan", meski memang sudah seharusnya diberi imbalan.
4. Lakukan! Tunggu apa lagi?
Yap, MELAKUKAN apa yang sudah seharusnya dilakukan. Mau nerbitin buku, ya nulis dulu, direvisi, lalu dikirim dengan niat dan doa yang baik, meski mungkin hasilnya nggak baik. Lalu PASRAHKAN kepada ALLAH! Serahkan semuanya. Percayalah bahwa Allah akan memberikan yang terbaik. Ingat, Allah menjawab dengan tiga hal: ya, tidak, dan diganti dengan yang lain. Nggak semua yang kamu harapkan sekarang bisa terwujud saat ini juga kan? Itu. Sabar. S-A-B-A-R. Jangan kayak saya yang nggak sabaran, haha.
5. Jangan menyerah
(Jangan kayak saya, haha, sedikit gampang nyerah, wkwk, payah!) Iya dong, JANGAN NYERAH dong. Sesulit apa pun keadaan, semua pasti ada jalan keluar. Percayalah! ALLAH TIDAK TIDUR, Sayang. Pasti akan Allah beri, meski tidak saat itu juga. Dan, sudah banyak bukti, kan, kalau usaha takkan mengkhianati hasil?
Apa? Kamu masih iri juga? Malah makin-makin panas sampai hatimu kebakaran?
Waduh, gimana lagi ya?
Mmm.
6. Bertanya pada subjek yang bikin kamu iri
Yuhuuu, saya sudah pernah melakukannya! Meski sulit, malas, dan jijik setengah mati, wkwk. Ternyata setelah ngobrol, sayanya aja yang pendengki wkwk. Dan senang karena responsnya bagus. Lalu diam-diam, dalam hati saya mengiakan: pantas sukses, dia orangnya begini. Saya mah apa, serpihan bumbu balado di janjanannya :v Ada banyak tipe manusia, kan? Kadang, ada yang mesti diminta dulu baru dikasih. Kadang ada yang belum ditanya tapi sudah dijelasin duluan. Yang tipe kedua nih, favorit saya! Saya tuh suka diceritain! Ceritainlahhh. Siapa tahu nanti saya tertarik untuk menuliskannya, ya kan?
7. Bersyukurlah
Menengadah, untuk melihat mereka yang lebih "berada atau berpunya", boleh. Menunduk, untuk melihat mereka yang (maaf) mungkin kondisinya di bawah kita, boleh. Asal nggak lupa menatap lurus lagi. Ingat lagi, berhasil atau tidaknya sesuatu, kita sudah berusaha entah itu seratus persen atau setengah hati. Dan yang lebih penting dari sekian banyak kerumitan yang kita terima, dan ini lebih mahal harganya, dan tidak boleh disia-siakan adalah...
Kesehatan.
Tanpa kesehatan, kita tentu tidak bisa beraktivitas normal. Bisa menghirup oksigen tanpa sesak napas dan alat bantu, adalah salah satu anugerah yang patut disyukuri. JANGAN LUPA BERSYUKUR! Bersyukur bisa dilakukan dengan banyak hal. Bisa dicari di google ya!
Sudah, itu dulu. Kalau ada tip lagi, saya update ya. Selamat iri! Eh, selamat malam maksudnya.
Sidoarjo, 6/12/18
Salam,
Si Iri yang Berusaha Menaklukkan Iri
Sabtu, 01 Desember 2018
Bandung Punya Cerita - Bagian Dua
Setelah
makan siang, perjalanan berlanjut ke Floating Market di Lembang. Sore itu
langit mendung, tapi angin tidak begitu mengusik. Kami mendapatkan tiket berupa
selembar voucher minum dan koin berwarna biru bernilai sepuluh ribu untuk
ditukarkan dengan makanan. Jika koin tersebut kurang, maka kami bisa membelinya
di konter terdekat.
Setelah
pintu masuk, kami
disambut dengan monumen Floating
Market dengan perahu dan koin sebagai simbolnya, sama
persis dengan voucher dan koin yang diterima tadi. Monumen itu ikelilingi
beraneka bunga, dan danau di belakangnya. Beragam pepohonan membingkai perairan
tersebut dan langit tampak begitu luas dipandang.
Di
ujung sana menampakkan tulisan dengan huruf balok: Rainbow Garden. Lalu di
bawahnya: Floating Market Lembang. Saya
pun tak sabar menuju ke sana. Namun, sebaiknya tidak perlu terburu-buru. Sebab,
kadang berjalan perlahan bukan berarti lambat atau kurang cekatan, tetapi untuk
menikmati suasana dan meresapi rasa yang ada. Tidak semua hal bisa terjadi
untuk kedua kali dengan tokoh dan suasana yang sama, kan?
Penjelajahan
berlanjut. Ada berbagai jenis pohon di sini. Juga bunga-bunga yang mekar dan
menambah daya tarik. Tiga orang berkostum
unik dan berbeda yang cukup mengejutkan juga agak menyeramkan bagi saya, haha.
Banyak
spot foto yang bagus untuk diabadikan dan dijadikan kenang-kenangan. Yang unik
dari lokasi ini adalah, jalanan yang ada di sepanjang rute terbuat dari bambu.
Takut tenggelam agak mendominasi dibandingkan kesenangan. Ya, memang dasarnya
overthinking. Eits, tapi sudah berusaha saya kurangi lho.
Ada juga papan penunjuk jalan
yang memberitahukan arah yang dituju dengan destinasi seperti di Jepang. Apalagi ada
beberapa orang yang mengenakan baju a la Korea dan Jepang. Gaya arsitektur
gazebo-gazebo di sini juga a la bangunan di dua negara itu. Benar-benar mirip!
Nggak cuma gazebonya, tapi di beberapa tempat ada juga hiasan khas.
O ya, selain gazebo di tepi danau, ada juga beberapa
gazebo apung di tempat ini. Salah satunya adalah tempat untuk menyewa kostum
Asia Timur! Iya, ada Kimono dan Hanbok yang bisa disewa. Entah bayarnya berapa,
saya nggak sempat tanya. Justru sibuk mengabadikan pemandangan hampir setiap
kali melangkah, hihi. Walau ada yang kelewatan difoto juga karena terlalu
ramai. Ya namanya juga tempat wisata ya kan?
Danau
di sini dihuni ikan-ikan hias yang ukurannya beragam. Ada yang besar pula.
Pengunjung bisa memberikan makan dengan membeli pakan di konter yang berjajar
di sepanjang jalan dengan para penjual yang membuka kios di atas perahu.
Menarik bukan? Di dekat pasar apung ini
ada juga pelabuhan rapuh. Eh, nggak, nggak
rapuh. Dermaga dengan wahana yang bisa disewa dan
dinikmati. Wahana permainannya beragam, mulai
dari kereta air, kano, sampan, paddle boat, dan lain-lain. Ya, lagi-lagi saya
melewatkan hal menarik dan seru.
Banyak opsi yang bisa dikunjungi di lokasi ini yang saya
lewatkan, sebab saya merasa waktu berkunjung cukup singkat, selain itu saya
juga terpisah dari dua teman, dan berakhir jalan sendirian, haha. Sekaligus
bingung, harus jalan ke mana, karena ada beberapa persimpangan dengan papan
penunjuk jalan. Dan akhirnya, saya bertemu lagi dengan dua teman tadi, yay!
Berikutnya, kami juga bertemu dengan teman-teman yang
lain. Ternyata mereka sedang menikmati makanan khas yang ada di sini, tetapi di
lokasi yang berbeda dengan yang saya lewati tadi.
Apa?
Kelanjutannya? Sabar. Doakan saya bisa segera menuliskannya ya, setelah
tugas--tugas saya beres.
Apa?
Kelamaan? Kalau gitu, bantu saya ngerjain tugas, biar cepat nulis, hehe.
Sidoarjo,
02/12/18
Ttd,
Perindu
Bandung
Jumat, 23 November 2018
Roller Coaster Kehidupan
Belakangan, jalanin kehidupan makin berasa seperti naik roller coaster. Naik-turun. Tiap hari. Untungnya ada jeda (baca: sewaktu tidur). Dulu, nggak bisa tidur kalau sesuatu belum benar-benar selesai. Iya, overthinking itu melelahkan. Sangat. Merepotkan? Banget. Menyedihkan? Iyaaa!
Kadang, bahkan seringnya saya iri dengan teman-teman yang tak acuh terhadap suatu hal, padahal hal tersebut melibatkannya. Kok bisa santai? Oh, bukan-bukan. Bukan santai, tapi semacam lepas tangan, atau berpangku tangan. Alias nggak mau tahu. Salut campur heran. Saya jadi mau tahu resepnya. Syukur-syukur kalau diajarin praktik "nggak pedulian". Jadi, gimana resep dan caranya, Teman-teman?
Saya balasin chat pun perlu mood yang bagus, kalau pesannya mengindikasikan sesuatu yang negatif (baca: kabar kurang menyenangkan).
Atau mood statis (baca: mati rasa). Kalau kabar bagus ya biasa aja. Kabar nggak bagus pun demikian. Tanpa ekspresi. Tanpa ekspektasi. Dan tidak menebak bagaimana sesuatu itu pada akhirnya: kabar bagus yang tidak membebani, atau kabar buruk yang makin bikin cuma pengin di rumah dan nggak buka media sosial.
Yang terakhir, mood buruk. Yang lebih baik pesannya diendapkan dulu (baca: nggak usah langsung dibalas, beberapa jam atau hari kemudian). Mengapa? Demi tidak menggores hati. Sebab, via teks mudah menimbulkan kesalahpahaman karena pesan tersebut tak bernada. Nggak tahu, nada yang sebetulnya itu gimana.
Sebetulnya saya nggak suka chatting. Kenapa? Toxic! Candu juga! Kalau obrolannya seru, susah berhenti, huhu. Sangat meracuni, huhu. Selain itu, sebetulnya, daripada digunakan untuk chit-chat sana-sini buat haha-hihi, lebih baik saya alihkan untuk mengerjakan sesuatu (baca: tugas dan tanggungan lain).
Menulis perkembangan diri misalnya. Mm, maksudnya, nulis jurnal atau diari. Fungsinya? Untuk mengetahui perkembangan emosi diri. Emosi itu bukan cuma marah, tapi juga senang, sedih, dan selainnya.
Yang mana tulisan itu bisa dibaca sewaktu-waktu. Bahkan bisa bikin ketawa karena ternyata pernah mengalami ini dan respons saya begini, dan sebagainya.
Alasan lain, yang paling mendasar kenapa saya nggak suka chatting adalah...
"Pegang hp seperlunya. Bukan setiap saat. Chatting seperlunya. Bukan semaunya."
Begitu pesan kedua orang tua saya. Yang makin ke sini saya main mengiakan, bahwa hampir semua perkataan mereka benar. Sebab mereka sudah puluhan tahun menjalani kehidupan, sedangkan saya baru berusia setengah dari umur mereka.
Yang ternyata semua itu memang melelahkan. Lelah harus menyediakan energi dan mood bagus untuk menghadapi banyak orang, sedangkan untuk isi ulang energi dan mood tidak semudah membalik telapak tangan.
Dulu, sulit jika diminta untuk tidur siang. Sekarang, sangat merindukan tidur siang. Ya, kan?
Begitu pun kalau ngobrol sama teman dekat atau orang lain. Saya sebetulnya sarkas. Baik dari segi lisan maupun tulisan. Itulah kenapa kalau mood saya buruk, atau habis dibikin jengkel sama orang, bukannya tenang, malah makin nyolot.
Tenang, saya nggak tinggal diam kok. Saya berusaha untuk mengendalikan diri lagi. Introspeksi terus-menerus. Mencari-cari bagian mana yang perlu diubah, dihilangkan, ditambah, ataupun bertahan.
Jadi, untuk chat yang belum dibalas, saya minta maaf sebesar-besarnya. Bukan saya nggak peduli. Tapi saya peduli dengan cara saya sendiri. Meski mungkin teman-teman merasa bahwa saya abai. Tapi sebetulnya tidak begitu. Belakangan, saya juga agak sulit mengungkapkan sesuatu. Maksud hati mau nulis A, malah jatuhnya ke B. Nggak sinkron sama yang diinginkan, huhu. Sedih saya tuh.
Untuk segala kesarkasan saya baik lisan maupun tulisan, dan pesan-pesan yang belum saya balas, saya minta maaf sebesar-besarnya. Semoga dimaafkan ya🙏
Semangat melanjutkan aktivitas! Semoga segera beres, jadi bisa santai dan tidur siang (sumber: dari saya yang jarang tidur siang, kuliah pulang sore hampir setiap hari, lalu sampai rumah dibandingkan dengan anak orang lain yang kegiatannya mungkin nggak sehectic saya :v).
Ps. Kalau mau ngobrol, boleh. Silakan kirim pesan. Tapi, maaf kalau nggak langsung direspons karena banyak sekali hal yang harus dikerjakan meski saya mungkin sedang online. Sebab, harus memantau banyak grup beserta anggota dan kegiatan yang akan, sedang, maupun sudah berlangsung. Semangat semuanyaaa!
Sidoarjo, 23/11/18
Ttd
Perindu tidur siang
Kadang, bahkan seringnya saya iri dengan teman-teman yang tak acuh terhadap suatu hal, padahal hal tersebut melibatkannya. Kok bisa santai? Oh, bukan-bukan. Bukan santai, tapi semacam lepas tangan, atau berpangku tangan. Alias nggak mau tahu. Salut campur heran. Saya jadi mau tahu resepnya. Syukur-syukur kalau diajarin praktik "nggak pedulian". Jadi, gimana resep dan caranya, Teman-teman?
Saya balasin chat pun perlu mood yang bagus, kalau pesannya mengindikasikan sesuatu yang negatif (baca: kabar kurang menyenangkan).
Atau mood statis (baca: mati rasa). Kalau kabar bagus ya biasa aja. Kabar nggak bagus pun demikian. Tanpa ekspresi. Tanpa ekspektasi. Dan tidak menebak bagaimana sesuatu itu pada akhirnya: kabar bagus yang tidak membebani, atau kabar buruk yang makin bikin cuma pengin di rumah dan nggak buka media sosial.
Yang terakhir, mood buruk. Yang lebih baik pesannya diendapkan dulu (baca: nggak usah langsung dibalas, beberapa jam atau hari kemudian). Mengapa? Demi tidak menggores hati. Sebab, via teks mudah menimbulkan kesalahpahaman karena pesan tersebut tak bernada. Nggak tahu, nada yang sebetulnya itu gimana.
Sebetulnya saya nggak suka chatting. Kenapa? Toxic! Candu juga! Kalau obrolannya seru, susah berhenti, huhu. Sangat meracuni, huhu. Selain itu, sebetulnya, daripada digunakan untuk chit-chat sana-sini buat haha-hihi, lebih baik saya alihkan untuk mengerjakan sesuatu (baca: tugas dan tanggungan lain).
Menulis perkembangan diri misalnya. Mm, maksudnya, nulis jurnal atau diari. Fungsinya? Untuk mengetahui perkembangan emosi diri. Emosi itu bukan cuma marah, tapi juga senang, sedih, dan selainnya.
Yang mana tulisan itu bisa dibaca sewaktu-waktu. Bahkan bisa bikin ketawa karena ternyata pernah mengalami ini dan respons saya begini, dan sebagainya.
Alasan lain, yang paling mendasar kenapa saya nggak suka chatting adalah...
"Pegang hp seperlunya. Bukan setiap saat. Chatting seperlunya. Bukan semaunya."
Begitu pesan kedua orang tua saya. Yang makin ke sini saya main mengiakan, bahwa hampir semua perkataan mereka benar. Sebab mereka sudah puluhan tahun menjalani kehidupan, sedangkan saya baru berusia setengah dari umur mereka.
Yang ternyata semua itu memang melelahkan. Lelah harus menyediakan energi dan mood bagus untuk menghadapi banyak orang, sedangkan untuk isi ulang energi dan mood tidak semudah membalik telapak tangan.
Dulu, sulit jika diminta untuk tidur siang. Sekarang, sangat merindukan tidur siang. Ya, kan?
Begitu pun kalau ngobrol sama teman dekat atau orang lain. Saya sebetulnya sarkas. Baik dari segi lisan maupun tulisan. Itulah kenapa kalau mood saya buruk, atau habis dibikin jengkel sama orang, bukannya tenang, malah makin nyolot.
Tenang, saya nggak tinggal diam kok. Saya berusaha untuk mengendalikan diri lagi. Introspeksi terus-menerus. Mencari-cari bagian mana yang perlu diubah, dihilangkan, ditambah, ataupun bertahan.
Jadi, untuk chat yang belum dibalas, saya minta maaf sebesar-besarnya. Bukan saya nggak peduli. Tapi saya peduli dengan cara saya sendiri. Meski mungkin teman-teman merasa bahwa saya abai. Tapi sebetulnya tidak begitu. Belakangan, saya juga agak sulit mengungkapkan sesuatu. Maksud hati mau nulis A, malah jatuhnya ke B. Nggak sinkron sama yang diinginkan, huhu. Sedih saya tuh.
Untuk segala kesarkasan saya baik lisan maupun tulisan, dan pesan-pesan yang belum saya balas, saya minta maaf sebesar-besarnya. Semoga dimaafkan ya🙏
Semangat melanjutkan aktivitas! Semoga segera beres, jadi bisa santai dan tidur siang (sumber: dari saya yang jarang tidur siang, kuliah pulang sore hampir setiap hari, lalu sampai rumah dibandingkan dengan anak orang lain yang kegiatannya mungkin nggak sehectic saya :v).
Ps. Kalau mau ngobrol, boleh. Silakan kirim pesan. Tapi, maaf kalau nggak langsung direspons karena banyak sekali hal yang harus dikerjakan meski saya mungkin sedang online. Sebab, harus memantau banyak grup beserta anggota dan kegiatan yang akan, sedang, maupun sudah berlangsung. Semangat semuanyaaa!
Sidoarjo, 23/11/18
Ttd
Perindu tidur siang
Langganan:
Postingan (Atom)
Sebagian 2025
Awal tahun 2025 menjadi pembuka untuk memulai pelajaran baru, dalam rangka menambah kemampuan. Kali ini dimulai dengan mengikuti workshop pe...
-
Awal tahun 2025 menjadi pembuka untuk memulai pelajaran baru, dalam rangka menambah kemampuan. Kali ini dimulai dengan mengikuti workshop pe...
-
Hai, 2024. Makin ke sini kian jarang buka, nulis, dan posting di blog ya. Maaf ya, aku sibuk belajar banyak hal: menulis skrip film dan men...
-
Halo, Teman-teman! Bulan Februari sudah punya agenda belum? Kalau belum, menimba ilmu bareng-bareng, yuk, di acara... SEMINAR MOTIVASI...