Sabtu, 06 April 2019

Bandung Punya Cerita - Bagian Lima

09 November 2018.
Kami masih di Bandung. Dan perjalanan belum berakhir. Ini masih hari kedua dari sekian hari yang akan kami habiskan di Bandung. Pagi ini kami menuju ke salah satu universitas ternama di Bandung. Coba tebak, universitas apa? Nggak tahu? Universitas di Bandung banyak?

Baik, akan saya beri petunjuk. Kampus ini terletak di Jalan Raya Bandung Sumedang Km 21.

Lebih tepatnya di Jatinangor. Jadi, apa nama kampusnya?

Yap, Unpad!
Universitas Padjajaran.

Pagi itu kami menimba ilmu di acara seminar. Jarak tempuh dari gerbang utama ke Bale Sartika, ternyata juga lumayan kalau jalan kaki. Kami menimba ilmu selama beberapa jam di Bale Sartika. Duduk di kursi empuk yang dilengkapi dengan meja lipat yang terletak di lengan kursi. Seminar nasional ini adalah bentuk kerja sama antara Unpad, IAI, dan juga Umsida. Kami juga melaksanakan salat zuhur di masjid kampus. Beruntung, jaraknya dekat dengan Bale Sartika. Kalau jauh, sia-sia makanan yang sudah kami santap seusai seminar, hehe.

Sebagai seorang yang suka berimajinasi, pikiran saya mulai ke mana-mana selama berjalan ke masjid dengan melewati berbagai medan yang memang lebih tinggi letaknya dibandingkan jalan raya. Mulai dari pikiran positif sampai yang paling negatif, senang sampai merinding karena “imajinasi horor” itu sempat mampir tanpa diminta. Ya, kadang saya risi kalau ada yang datang tanpa diundang dan susah pergi.

Destinasi berikutnya, rombongan kami berpencar sesuai dengan pembagian kunjungan ke perusahaan. Saya dan teman satu bus mengunjungi perusahaan yang memproduksi kue kering. Selama perjalanan menuju dan sudah di Bandung, pesan yang saya terima di WhatsApp pun beragam. Salah satunya, sore itu, seputar hujan lebat di Sidoarjo, juga yang menimpa wilayah lain. Tak lama setelah sekilas membaca pesan itu, Bandung diguyur hujan. Awalnya hanya rintik kecil yang juga membentur jendela bus. Kemudian berubah menjadi rintik besar dan jalanan sudah basah begitu saja.

Area untuk parkir bus becek sore itu. Hujan masih terus turun dan kami harus oper kendaraan menggunakan shuttle atau len—kalau di Sidoarjo. Hawa di Bandung terasa makin dingin seiring dengan perjalanan kami.

Setiba di J and C Cookies, kami memasuki area steril. Sembari menunggu bergantian mengelilingi pabrik kue kering ini, kami juga bisa menggali infomasi ke pegawai untuk memperoleh data yang kami butuhkan dalam pengerjaan laporan nantinya. Setiap rombongan yang akan mengelilingi pabrik untuk melihat proses produksi hingga pengemasan, mengenakan jas putih dan juga masker. Mesin-mesin yang ada di sana pun terlihat masih bagus. Dari penjelasan pegawai di sini, perusahaan ini juga mempekerjakan warga sekitar apabila telah masuk masa produksi.

Psst, perjalanan di Bandung kami belum usai! Tunggu cerita selanjutnya ya!
Psst, saya nggak sabar dengan destinasi-destinasi lainnya di itinerary!

Sidoarjo, 5/4/19

Ttd,
Perindu Bandung

Jumat, 21 Desember 2018

Bandung Punya Cerita - Bagian Empat

Memasuki bus untuk melanjutkan perjalanan lagi, saya mulai merasa kurang fit. Semakin cemas saat tenggorokan kering dan mulut terasa pahit. Nggak, dua hal menyebalkan itu  nggak boleh nyamperin saya. Nggak boleh. Nggak mau tahu gimana caranya. Akhirnya saya memilih untuk minum dalam beberapa menit sekali, sambil berharap untuk tidak buang air kecil. Saya mengubah posisi duduk berkali-kali ketika mulai merasa tidak nyaman. Berusaha tidur dan alhamdulillah, di bus yang dilengkapi bantal leher ini, saya bisa tidur dengan mudah dan sesering mungkin, wkwk. Ya, daripada melek tapi ngerepotin orang ya kan?

Begitu bus berhenti, saya berusaha segera turun. Rasanya, kedua hal menyebalkan itu mendobrak diri dan minta dikeluarkan. Yang benar saja! Akhirnya saya berjongkok di antrean toilet. Dan di sana, entah ada berapa orang yang dikalahkan oleh dua hal tersebut. Saya makin khawatir dan merasa sial. Tapi saya memejam sambil menyugesti diri: saya pasti kuat. Itulah mengapa saya pernah bilang bahwa perjalanan Sidoarjo-Bandung bukan perkara mudah.

Oke, sesi curhat sudah selesai.
Berikutnya kami antre untuk memasuki area Saung Angklung Udjo. Entah ini beruntung atau sial karena kami berkunjung malam hari, yang membuat sekitar gelap dan pemandangan tidak sejelas tadi. Tapi, di sini juga ada kios suvenir. Di sepanjang jalan untuk antre pun ada suvenir yang narik-narik saya untuk membungkusnya, wkwk. Saya harus kuat tahan godaan, haha. O ya, ada yang unik dari SAU. Bukan tiket berupa kertas atau gelang yang dipakai di tangan, tapi kami mendapatkan kalung berbentuk angklung mini. Selain itu, juga ditawarkan air mineral atau es krim. Saya pilih air mineral lah. Saya kan nggak bisa jauh darinya, wkwk. Eh, ini serius.

Kami berjalan ke gedung terbuka dengan tribun yang melingkar. Dosen pendamping kami bilang bahwa akan ada sesi bermain angkung bersama dan saya tidak sabar!

Saung Angklung Udjo sendiri ialah sanggar seni sebagai tempat pertunjukan seni, laboratorium pendidikan sekaligus sebagai objek wisata budaya khas daerah Jawa Barat dengan mengandalkan semangat gotong royong antarsesama warga desa.

SAU didirikan pada tahun 1966 oleh Udjo Ngalagena (Alm)--yang akrab dipanggil Mang Udjo--dan istrinya, Uum Sumiati. SAU berusaha mewujudkan cita-cita dan harapan Abah Udjo (Alm) yang atas kiprahnya dijuluki sebagai Legenda Angklung, yaitu Angklung sebagai seni dan identitas budaya yang membanggakan (Sinopsis Pertunjukan Bambu).

Berdasarkan lembaran sinopsis yang kami terima, pertunjukan bambu SAU ada beberapa macam. Ada demonstrasi wayang golek yang umumnya pementasan ini berlangsung lebih dari tujuh jam, yaitu pada malam hari, semalam suntuk sekitar pukul 20.00 sampai 04.00 WIB. Tak hanya itu, ada pula heleran, tari tradisional: tari topeng, angklung mini, arumba, angklung massal nusantara, dan bagian favorit saya: bermain angklung bersama.

Untuk pertama kalinya saya memegang angklung! Setelah sekian lama hanya melihatnya di televisi maupun ponsel. Nah, sekarang, kami tidak hanya memegang, tapi juga dibimbing bagaimana cara memainkan angklung. Ternyata cukup sederhana. Tangan kiri memegang tangkai kiri atas, sedangkan tangan kanan memegang pangkal kanan, lalu digerakkan, maka bambu dengan letak berongga yang ada di setiap blok akan bergeser, berbenturan, dan menghasilkan bunyi.

Eits, pertunjukan belum berakhir, tapi hujan mendadak turun dengan derasnya. Percikan air sampai terasa mengenai diri. Untungnya, di tribun ini tidak bocor--sepenglihatan saya. Namun, hujan tak mengurangi kadar keceriaan kami sambil menyaksikan pertunjukan yang ada. Terlebih, angklung orkestra. Kami bernyanyi bersama diiringi dengan angklung yang dikombinasikan dengan alat musik seperi gitar, perkusi, dan lain-lain. Bahkan di akhir pertunjukan, para pengisi pertunjukan mengajak para penonton untuk turun dari tribun dan menari bersama di depan panggung.


Sidoarjo, 07/12/18

Ttd,
Perindu Bandung



Kamis, 20 Desember 2018

Bandung Punya Cerita - Bagian Tiga

Setelah penjelajahan di Floating Market berakhir, kami melanjutkan perjalanan ke Farm House. Kami mendapatkan selembar tiket bergambar botol susu dan juga yang dalam kemasan gelas. Di sini ada spot-spot foto yang berbayar. Berhubung saya tidak ke spot tersebut dan tidak bertanya, maka saya tidak tahu berapa biaya masuknya, haha.

Di pelataran Farm House, ada beberapa kios dengan gaya unik, yang menjual beragam dagangan. Mulai dari makanan dan minuman, pernak-pernik, dan juga bunga-bunga.

Sebelum masuk, saya berfoto dengan teman sekelas, lalu lanjut dengan teman setim. Ketiga teman saya menukarkan voucher tersebut ke kedai susu berdinding putih, pun dengan pembatas untuk jalur antre dan keluar. Saya tidak menukarkan voucher, sebab tidak ingin minum susu demi menjaga kesehatan tubuh, wkwk. Alias tak mau repot dengan dua hal menyebalkan yang harus dijaga demi tidak merepotkan siapa pun, termasuk diri saya sendiri.

Memasuki Farm House, kami disambut dengan dinding dari tumbuhan, lalu beberapa bunga, juga ada air terjun mini. Kemudian ada taman, juga bangunan-bangunan besar dengan gaya arsitektur Eropa. Di area ini juga ada banyak kios yang bisa dikunjungi dan barangnya boleh dibawa pulang, asalkan dibayar dulu. Yaiyalah, haha.

Di area ini juga ada tempat sewa kostum khas seperti orang Eropa dengan gaun yang lebar dan mengembang. Juga ada kostum untuk laki-laki. Ada spot untuk foto juga di lantai dua yang tempatnya terbuka dan terlihat bagus. Atau bisa juga berkeliling untuk mencari spot foto yang sesuai dengan kostumnya.

Di tempat berikutnya, setelah kafe dengan eksterior bangunan yang ciamik, ada tempat bersantai juga di lantai dua. Ada beberapa pohon yang menaungi, juga tempat duduk yang biasa digunakan untuk berjemur.

Selanjutnya, ada spot yang tak kalah menarik, bangunan kecil serupa rumah dengan eksterior yang cantik untuk diabadikan dengan kamera. Di masing-masing  rumah tersebut juga ada nama, salah satunya Farmers Market--yang sayangnya saya lewatkan karena di sana ramai. Saya hanya melihat sekilas, memotretnya, lalu beralih ke lokasi lain.

Di tempat yang baru saja saya pijaki ternyata cukup tinggi. Pagar hitam memberikan batas bagi pengunjung untuk tidak melampauinya. Kecuali pengunjung tersebut ingin mengakhiri hidupnya dengan terjun bebas ke area persawahan yang dibingkai pepohonan. Jangankan terjun, melihat sekilas, bersandar di pagar pun saya merinding. Sebagaimana si overthinking sekaligus overnegativethinking, pikiran saya jelas ke mana-mana dan menjurus ke "sana". Maka, setelah merasa cukup untuk memotret, saya segera menjauh dari tapal batas. Saya masih mau hidup.



Ps. Ini masih hari petama dan perjalanan belum berakhir!
Nantikan kelanjutan ceritanya, ya!

Sidoarjo, 02/12/18

Ttd,
Perindu Bandung

Kamis, 06 Desember 2018

Cara Mengelola Rasa Iri a la Inka

Kira-kira, berapa banyak manusia yang tidak iri terhadap orang lain, ya? Mungkin jumlahnya jauh lebih kecil daripada orang-orang yang iri. Apalagi kalau rasa iri ini tidak dikelola dengan baik, tentu bisa menjadi petaka.
Lantas, bagaimana cara mengelola rasa iri, bahkan menaklukkannya?

Tak bisa saya pungkiri, meski sebetulnya enggan saya akui bahwa salah satu cita-cita saya adalah menjadi penulis dan menerbitkan banyak buku, terutama karya sendiri atau buku solo. Namun, sudah bertahun-tahun menulis--meski mungkin lamanya saya belajar menulis belum setara dengan penulis senior atau yang sudah berpengalaman--belum ada buku solo yang terbit. Mayoritas karya saya yang terbit adalah dari banyak karya orang yang dikumpulkan, lalu dibukukan. Atau lebih familier disebut sebagai buku antologi.

Beberapa tahun lalu saat penerbit-penerbit besar--berbadan hukum, atau lebih dikenal dengan sebutan penerbit mayor atau yang tidak memungut sepeser pun biaya untuk menerbitkan buku--belusukan atau menyelam di dunia oranye atau Wattpad. Kemudian banyak karya-karya yang "dipinang". Diterbitkan. Apalagi dengan label "telah dibaca sekian juta kali di wattpad", saya minder. Makin ke sini kian minder. Tambah minder lagi saat viewers atau readers, juga followers adalah ladang "laba". Yap, perusahaan mana sih yang nggak mau dapat profit? Nggak ada kan? Nah, itu, saya sudah coba beragam cara, tapi followers, readers, juga viewers saya tetap sedikit di dunia oranye. Tidak sampai 300 orang. Makin-makin minderlah saya, haha. Lalu perlahan melupakan ambisi untuk menerbitkan buku sampai sekarang, huhu. Tapi masih berharap dan berusaha juga agar bisa terwujud.

Nggak cuma di situ. Hal itu juga saya barengi dengan melamar penerbit. Yas, saya menawarkan atau mengajukan naskah sejak beberapa tahun lalu. Masa tunggu jawaban dari lamaran saya pun beragam, mulai kurang dari satu bulan sampai bertahun-tahun! Iya, untuk memperoleh konfirmasi "diterima dan akan diterbitkan atau ditolak dan tidak atau belum cocok untuk diterbitkan" bisa memakan waktu selama itu. Kudu suabaaar, huhu. Apalagi untuk calon penulis yang belum punya "nama".

Halah, kan bisa dilupain.

Apa? Dilupain kamu bilang? Masa sih, kamu bisa secepat itu lupa kalau habis menyatakan cinta tapi belum dapat jawaban apa-apa sampai segitu lamanya. Masa sih nggak kepikiran bakal dijawab gimana, atau ungkapan perasaanmu itu dianggap atau diperlakukan seperti apa...
Gimana? Bisa secepat itu melupakan? Enggak, kan? Haha.

Bahkan prinsip yang saya temukan entah di mana dan lupa: tulis, kirim, lupakan. Agaknya berpengaruh. Lumayan, nggak stress-stress amat, wkwk. Berasa melamar calon pendamping hidup beneran kan?

Jadi, gimana jawaban atas lamaranmu, Ink?

Ditolak! Entah sudah berapa kali ditolak! Terus diajuin lagi. Ditolak! Terus diajuin lagi. Kurang sabar apa saya tuh, disakiti tapi nggak kapok wkwk, meskipun galau dulu dong berhari-hari. Sambat dulu dong. Nangis dulu dong. Marah-marah dulu dong, sebelum akhirnya bisa move on! Yay! Bisa move on itu salah satu anugerah terindah lho! Apalagi dapat dukungan lagi dari teman-teman.

Lalu saya balik lagi ke diri sendiri. Mempertanyakan apa yang sempat dibulatkan dan seambisius itu. Sebetulnya, apa yang saya cari dari nerbitin buku itu? Tenar? Royalti? Sombong? Pamer? Atau apa?
Kemudian saya berkaca lagi. Menarik diri lagi. Menjauh dari segala yang saya ambisikan. Setelah sempat merasa pantas, tapi nyatanya tidak. O, bukan tidak. Mungkin hanya belum. Semua butuh waktu. Semua butuh proses. Dan saya juga tak ingin menulis omong kosong. Apalagi kalau omong kosong itu dibaca banyak orang. Bisa-bisa marah atau malah bikin dosa jariyah. Astagfirullah. Naudzubillahi mindzalik.

Nggak cuma masalah nerbitin buku. Selain di dunia perbukuan dan penerbitan itu, buanyak hal yang membuat saya iri. Contoh: teman-teman punya ini-itu baru, sedangkan saya nggak gitu. Teman-teman dapat ini-itu tanpa susah payah, sedangkan saya mesti berusaha ekstra, dan sebagainya.

Lantas, apa yang saya lakukan?

1. Menarik diri atau jaga jarak dari segala kegiatan
Sepulang kuliah, langsung pulang. Atau kalau pagi, sampai di kampusnya telat atau mepet jam masuk. Jaga jarak sama organisasi-organisasi beserta anggotanya. Pokoknya nggak banyak ketemu dan ngobrol sama orang! Tujuannya apa? Untuk mengurangi obrolan sama teman-teman yang berpotensi menyakiti hati. Apalagi saya orangnya sinis dan ketus ya kan. Yang dikhawatirkan dari ketemu sama subjek yang diiri-in ataupun teman-teman? Saya gelap mata, haha. Makanya nggak mau lama-lama, wkwk.

2. Menyendiri dan merenung
Untuk memikirkan lagi kenapa saya iri? Kenapa harus seiri ini? Kenapa harus sesakit ini? Dan hal-hal negatif dan meremehkan si subjek tadi.
Kemudian mulai berusaha berpikir jernih. Apa saya bisa seperti dia?
Untuk berkaca lagi.
Apa saya sudah pantas dengan kemauan saya yang seperti ini? Siapa yang akan mendukung saya? Saya kan nggak punya pac*r, sahabat, dan kawan-kawannya seperti dia. Terus berusaha memupuk diri untuk bertumbuh dan berkembang.

3. Kokohkan pondasi
Nggak mau dong, tenggelam dalam keterpurukan? Ya nggaklah.
Nggak mau dong, lukanya nggak segera kering? Ya nggak mau lah. Lalu, ngapain? Ya BERUSAHA dong! Berusaha yang gimana? Pertama, NIAT! Niatkan semua yang akan dilakukan adalah hanya KARENA ALLAH. Bukan untuk dipuji orang tua, pac*r, sahabat, orang yang bikin iri, dosen, gebetan, selingkuhan, dan sebagainya. Lakukan dengan tulus. Sebisa mungkin tidak berharap bahwa apa yang kita lakukan untuk orang lain, kemudian mereka akan bersedia melakukan hal yang sama seperti yang kita lakukan. Nggak! Nggak semua orang bersedia seperti itu. Bagaimana cara melihat ketulusan? Saya... Nggak tahu. Sejauh ini, belum pernah saya temui orang yang benar-benar tulus, sekalipun itu kedua orang tua. Mengapa, sebab masih saya dengar "minta imbalan", meski memang sudah seharusnya diberi imbalan.

4. Lakukan! Tunggu apa lagi?
Yap, MELAKUKAN apa yang sudah seharusnya dilakukan. Mau nerbitin buku, ya nulis dulu, direvisi, lalu dikirim dengan niat dan doa yang baik, meski mungkin hasilnya nggak baik. Lalu PASRAHKAN kepada ALLAH! Serahkan semuanya. Percayalah bahwa Allah akan memberikan yang terbaik. Ingat, Allah menjawab dengan tiga hal: ya, tidak, dan diganti dengan yang lain. Nggak semua yang kamu harapkan sekarang bisa terwujud saat ini juga kan? Itu. Sabar. S-A-B-A-R. Jangan kayak saya yang nggak sabaran, haha.

5. Jangan menyerah
(Jangan kayak saya, haha, sedikit gampang nyerah, wkwk, payah!) Iya dong, JANGAN NYERAH dong. Sesulit apa pun keadaan, semua pasti ada jalan keluar. Percayalah! ALLAH TIDAK TIDUR, Sayang. Pasti akan Allah beri, meski tidak saat itu juga. Dan, sudah banyak bukti, kan, kalau usaha takkan mengkhianati hasil?

Apa? Kamu masih iri juga? Malah makin-makin panas sampai hatimu kebakaran?
Waduh, gimana lagi ya?
Mmm.
6. Bertanya pada subjek yang bikin kamu iri
Yuhuuu, saya sudah pernah melakukannya! Meski sulit, malas, dan jijik setengah mati, wkwk. Ternyata setelah ngobrol, sayanya aja yang pendengki wkwk. Dan senang karena responsnya bagus. Lalu diam-diam, dalam hati saya mengiakan: pantas sukses, dia orangnya begini. Saya mah apa, serpihan bumbu balado di janjanannya :v Ada banyak tipe manusia, kan? Kadang, ada yang mesti diminta dulu baru dikasih. Kadang ada yang belum ditanya tapi sudah dijelasin duluan. Yang tipe kedua nih, favorit saya! Saya tuh suka diceritain! Ceritainlahhh. Siapa tahu nanti saya tertarik untuk menuliskannya, ya kan?

7. Bersyukurlah
Menengadah, untuk melihat mereka yang lebih "berada atau berpunya", boleh. Menunduk, untuk melihat mereka yang (maaf) mungkin kondisinya di bawah kita, boleh. Asal nggak lupa menatap lurus lagi. Ingat lagi, berhasil atau tidaknya sesuatu, kita sudah berusaha entah itu seratus persen atau setengah hati. Dan yang lebih penting dari sekian banyak kerumitan yang kita terima, dan ini lebih mahal harganya, dan tidak boleh disia-siakan adalah...
Kesehatan.
Tanpa kesehatan, kita tentu tidak bisa beraktivitas normal. Bisa menghirup oksigen tanpa sesak napas dan alat bantu, adalah salah satu anugerah yang patut disyukuri. JANGAN LUPA BERSYUKUR! Bersyukur bisa dilakukan dengan banyak hal. Bisa dicari di google ya!

Sudah, itu dulu. Kalau ada tip lagi, saya update ya. Selamat iri! Eh, selamat malam maksudnya.


Sidoarjo, 6/12/18


Salam,
Si Iri yang Berusaha Menaklukkan Iri

Sabtu, 01 Desember 2018

Bandung Punya Cerita - Bagian Dua


Setelah makan siang, perjalanan berlanjut ke Floating Market di Lembang. Sore itu langit mendung, tapi angin tidak begitu mengusik. Kami mendapatkan tiket berupa selembar voucher minum dan koin berwarna biru bernilai sepuluh ribu untuk ditukarkan dengan makanan. Jika koin tersebut kurang, maka kami bisa membelinya di konter terdekat.

Setelah pintu masuk, kami disambut dengan monumen Floating Market dengan perahu dan koin sebagai simbolnya, sama persis dengan voucher dan koin yang diterima tadi. Monumen itu ikelilingi beraneka bunga, dan danau di belakangnya. Beragam pepohonan membingkai perairan tersebut dan langit tampak begitu luas dipandang.

Di ujung sana menampakkan tulisan dengan huruf balok: Rainbow Garden. Lalu di bawahnya: Floating Market Lembang. Saya pun tak sabar menuju ke sana. Namun, sebaiknya tidak perlu terburu-buru. Sebab, kadang berjalan perlahan bukan berarti lambat atau kurang cekatan, tetapi untuk menikmati suasana dan meresapi rasa yang ada. Tidak semua hal bisa terjadi untuk kedua kali dengan tokoh dan suasana yang sama, kan?

Penjelajahan berlanjut. Ada berbagai jenis pohon di sini. Juga bunga-bunga yang mekar dan menambah daya tarik. Tiga orang berkostum unik dan berbeda yang cukup mengejutkan juga agak menyeramkan bagi saya, haha.

Banyak spot foto yang bagus untuk diabadikan dan dijadikan kenang-kenangan. Yang unik dari lokasi ini adalah, jalanan yang ada di sepanjang rute terbuat dari bambu. Takut tenggelam agak mendominasi dibandingkan kesenangan. Ya, memang dasarnya overthinking. Eits, tapi sudah berusaha saya kurangi lho.

Ada juga papan penunjuk jalan yang memberitahukan arah yang dituju dengan destinasi seperti di Jepang.  Apalagi ada beberapa orang yang mengenakan baju a la Korea dan Jepang. Gaya arsitektur gazebo-gazebo di sini juga a la bangunan di dua negara itu. Benar-benar mirip! Nggak cuma gazebonya, tapi di beberapa tempat ada juga hiasan khas.

O ya, selain gazebo di tepi danau, ada juga beberapa gazebo apung di tempat ini. Salah satunya adalah tempat untuk menyewa kostum Asia Timur! Iya, ada Kimono dan Hanbok yang bisa disewa. Entah bayarnya berapa, saya nggak sempat tanya. Justru sibuk mengabadikan pemandangan hampir setiap kali melangkah, hihi. Walau ada yang kelewatan difoto juga karena terlalu ramai. Ya namanya juga tempat wisata ya kan?

Danau di sini dihuni ikan-ikan hias yang ukurannya beragam. Ada yang besar pula. Pengunjung bisa memberikan makan dengan membeli pakan di konter yang berjajar di sepanjang jalan dengan para penjual yang membuka kios di atas perahu. Menarik bukan? Di dekat pasar apung ini ada juga pelabuhan rapuh. Eh, nggak, nggak rapuh. Dermaga dengan wahana yang bisa disewa dan dinikmati. Wahana permainannya beragam, mulai dari kereta air, kano, sampan, paddle boat, dan lain-lain. Ya, lagi-lagi saya melewatkan hal menarik dan seru.

Banyak opsi yang bisa dikunjungi di lokasi ini yang saya lewatkan, sebab saya merasa waktu berkunjung cukup singkat, selain itu saya juga terpisah dari dua teman, dan berakhir jalan sendirian, haha. Sekaligus bingung, harus jalan ke mana, karena ada beberapa persimpangan dengan papan penunjuk jalan. Dan akhirnya, saya bertemu lagi dengan dua teman tadi, yay!

Berikutnya, kami juga bertemu dengan teman-teman yang lain. Ternyata mereka sedang menikmati makanan khas yang ada di sini, tetapi di lokasi yang berbeda dengan yang saya lewati tadi.

Apa? Kelanjutannya? Sabar. Doakan saya bisa segera menuliskannya ya, setelah tugas--tugas saya beres.
Apa? Kelamaan? Kalau gitu, bantu saya ngerjain tugas, biar cepat nulis, hehe.

Sidoarjo, 02/12/18

Ttd,
Perindu Bandung

Jumat, 23 November 2018

Roller Coaster Kehidupan

Belakangan, jalanin kehidupan makin berasa seperti naik roller coaster. Naik-turun. Tiap hari. Untungnya ada jeda (baca: sewaktu tidur). Dulu, nggak bisa tidur kalau sesuatu belum benar-benar selesai. Iya, overthinking itu melelahkan. Sangat. Merepotkan? Banget. Menyedihkan? Iyaaa!

Kadang, bahkan seringnya saya iri dengan teman-teman yang tak acuh terhadap suatu hal, padahal hal tersebut melibatkannya. Kok bisa santai? Oh, bukan-bukan. Bukan santai, tapi semacam lepas tangan, atau berpangku tangan. Alias nggak mau tahu. Salut campur heran. Saya jadi mau tahu resepnya. Syukur-syukur kalau diajarin praktik "nggak pedulian". Jadi, gimana resep dan caranya, Teman-teman?

Saya balasin chat pun perlu mood yang bagus, kalau pesannya mengindikasikan sesuatu yang negatif (baca: kabar kurang menyenangkan).

Atau mood statis (baca: mati rasa). Kalau kabar bagus ya biasa aja. Kabar nggak bagus pun demikian. Tanpa ekspresi. Tanpa ekspektasi. Dan tidak menebak bagaimana sesuatu itu pada akhirnya: kabar bagus yang tidak membebani, atau kabar buruk yang makin bikin cuma pengin di rumah dan nggak buka media sosial.

Yang terakhir, mood buruk. Yang lebih baik pesannya diendapkan dulu (baca: nggak usah langsung dibalas, beberapa jam atau hari kemudian). Mengapa? Demi tidak menggores hati. Sebab, via teks mudah menimbulkan kesalahpahaman karena pesan tersebut tak bernada. Nggak tahu, nada yang sebetulnya itu gimana.

Sebetulnya saya nggak suka chatting. Kenapa? Toxic! Candu juga! Kalau obrolannya seru, susah berhenti, huhu. Sangat meracuni, huhu. Selain itu, sebetulnya, daripada digunakan untuk chit-chat sana-sini buat haha-hihi, lebih baik saya alihkan untuk mengerjakan sesuatu (baca: tugas dan tanggungan lain).

Menulis perkembangan diri misalnya. Mm, maksudnya, nulis jurnal atau diari. Fungsinya? Untuk mengetahui perkembangan emosi diri. Emosi itu bukan cuma marah, tapi juga senang, sedih, dan selainnya.

Yang mana tulisan itu bisa dibaca sewaktu-waktu. Bahkan bisa bikin ketawa karena ternyata pernah mengalami ini dan respons saya begini, dan sebagainya.

Alasan lain, yang paling mendasar kenapa saya nggak suka chatting adalah...

"Pegang hp seperlunya. Bukan setiap saat. Chatting seperlunya. Bukan semaunya."

Begitu pesan kedua orang tua saya. Yang makin ke sini saya main mengiakan, bahwa hampir semua perkataan mereka benar. Sebab mereka sudah puluhan tahun menjalani kehidupan, sedangkan saya baru berusia setengah dari umur mereka.

Yang ternyata semua itu memang melelahkan. Lelah harus menyediakan energi dan mood bagus untuk menghadapi banyak orang, sedangkan untuk isi ulang energi dan mood tidak semudah membalik telapak tangan.

Dulu, sulit jika diminta untuk tidur siang. Sekarang, sangat merindukan tidur siang. Ya, kan?

Begitu pun kalau ngobrol sama teman dekat atau orang lain. Saya sebetulnya sarkas. Baik dari segi lisan maupun tulisan. Itulah kenapa kalau mood saya buruk, atau habis dibikin jengkel sama orang, bukannya tenang, malah makin nyolot.

Tenang, saya nggak tinggal diam kok. Saya berusaha untuk mengendalikan diri lagi. Introspeksi terus-menerus. Mencari-cari bagian mana yang perlu diubah, dihilangkan, ditambah, ataupun bertahan.

Jadi, untuk chat yang belum dibalas, saya minta maaf sebesar-besarnya. Bukan saya nggak peduli. Tapi saya peduli dengan cara saya sendiri. Meski mungkin teman-teman merasa bahwa saya abai. Tapi sebetulnya tidak begitu. Belakangan, saya juga agak sulit mengungkapkan sesuatu. Maksud hati mau nulis A, malah jatuhnya ke B. Nggak sinkron sama yang diinginkan, huhu. Sedih saya tuh.

Untuk segala kesarkasan saya baik lisan maupun tulisan, dan pesan-pesan yang belum saya balas, saya minta maaf sebesar-besarnya. Semoga dimaafkan ya🙏

Semangat melanjutkan aktivitas! Semoga segera beres, jadi bisa santai dan tidur siang (sumber: dari saya yang jarang tidur siang, kuliah pulang sore hampir setiap hari, lalu sampai rumah dibandingkan dengan anak orang lain yang kegiatannya mungkin nggak sehectic saya :v).

Ps. Kalau mau ngobrol, boleh. Silakan kirim pesan. Tapi, maaf kalau nggak langsung direspons karena banyak sekali hal yang harus dikerjakan meski saya mungkin sedang online. Sebab, harus memantau banyak grup beserta anggota dan kegiatan yang akan, sedang, maupun sudah berlangsung. Semangat semuanyaaa!

Sidoarjo, 23/11/18

Ttd
Perindu tidur siang



Kamis, 15 November 2018

Bandung Punya Cerita - Bagian Satu


Bandung Punya Cerita - Bagian Satu

Sebelum tanggal tujuh hingga dua belas November 2018.

Perjalanan dimulai dari meminta izin pada pemilik novel NTdTK, yang dipinjami buku entah sudah berapa bulan lalu, tapi baru saya baca beberapa hari lalu, huhu. Iya, manajemen waktu saya kurang baik.

Meski sangsi takut novelnya ketinggalan, tapi ingat kalau perjalanan di kereta memakan waktu dua belas jam, dan sudah mendapat izin... Akhirnya dibawa juga.

Saya dan empat teman berangkat menuju stasiun pukul dua belas siang, sebab mengantisipasi agar tidak terjebak macet. Dan sebelum itu, saya dalam kondisi sial, sulit menelan obat dan belum apa-apa, sudah mau muntah. Tapi syukurlah, sampai di stasiun, tidak terjadi apa-apa, kecuali datang yang terlalu awal. Kami menunggu cukup lama untuk boarding pass. Perasaan campur aduk menjelang keberangkatan.

Pukul setengah lima sore, kami sudah berada di dalam kereta, sudah selesai dari sibuknya menata barang bawaan yang banyak dan berat. Kami berdoa masing-masing agar selalu dalam lindungan Allah Swt.

Perjalanan dua belas jam bukan perkara mudah bagi saya, apalagi ini perdana naik kereta. Ditambah lagi dengan dua kebiasaan saya yang kadang masih mengganggu, padahal sudah menyugesti tidak akan terjadi, nyatanya beberapa bulan lalu juga terjadi :')

Syukurlah, udara di kereta ternyata tak jauh berbeda dengan udara di luar sana. Sebab, udara memengaruhi. Dan perjalanan selama dua belas jam menjadi menyenangkan sebab tidak ada indikasi jika dua hal yang menyebalkan itu akan terjadi.

Setelah memindai seisi kereta, pikiran saya mulai berkelana, melihat ke jendela yang tampaknya matahari sudah mulai tenggelam. Dan banyak pemandangan indah yang dilewatkan. Teman-teman pun mengeluhkan. Tapi, Allah Swt lebih tahu apa yang terbaik untuk hambaNya.

Makan malam cukup mengejutkan, nasi goreng ditemani telur mata sapi dan ayam goreng, juga acar, saus, mentimun, serta kerupuk. Yang membuat terkejut adalah daftar menu beserta harganya, haha. Saya baru mengeceknya setelah makan.

Malam hari, saat saya merasa perlu segera menyelesaikan novel yang dipinjam cukup lama--dan pemiliknya terus menyemangati untuk segera membaca--akhirnya memulai membaca novel Nona Teh dan Tuan Kopi. Sedikit banyak, membuat bingung. Tak sepenuhnya mudah mencerna setiap tulisan yang ada di sana. Hanya asal membaca. Padahal sudah berkonsentrasi. Tapi cukup senang, meski teriris dan agak berat untuk dibaca selama perjalanan menuju "kesenangan". Iya, saya anggap ini liburan. Dan saya sudah memutuskan dan mengesahkan--ceilah bahasanya, wkwk--untuk tidak berekspektasi apa pun, sebab, biasanya saya mengkhayalkan sesuatu sebelum menjalaninya. Tapi kali ini, tidak terlalu begitu.

Mulai mengantuk, saya memutuskan untuk menyudahi kegiatan membaca--meski tak banyak menghabiskan jumlah halaman, tapi lumayan, daripada tidak dibaca sama sekali. Tak mau ambil risiko kalau novelnya jadi lecek atau ternoda.

Entah pukul berapa, saya terbangun, lalu memutuskan untuk menyantap nasi goreng yang sengaja masih disisakan, sebab sore hari setelah masuk kereta, saya baru makan bekal tadi siang, setelah sebelumnya tidak tuntas karena merasa tak enak. Bukan makanannya yang tak enak, tapi kondisi tubuhnya.

Pagi harinya, entah tepatnya pukul berapa--sebelum pukul tujuh seingat saya--rombongan saya sudah tiba di stasiun Bandung. Kami melanjutkan perjalanan menggunakan bus menuju ke Rest Area. Syukurlah, dua hal menyebalkan itu tidak menghampiri, udara di bus cukup bersahabat. Saya merasa senang, beruntung, meski masih waswas. Rombongan saya berbenah dan sarapan di area tersebut.

Kami melanjutkan perjalanan ke Kopi Luwak Cikole. Berhenti di pelataran rumah makan kalau tak salah ingat, lalu melanjutkan perjalanan menggunakan mobil angkutan umum, yang biasa disebut len, tapi di Bandung disebut shuttle.

Selama menimba ilmu di KLC, saya mengantuk. Sangat, sangat mengantuk, dan ini fatal. Agak lama tertidur, sebentar terbangun. Saya merasa tidak mendapat apa-apa di sana. Menyedihkan. Sungguh, kantuk yang saya rasakan, rasanya sama persis dengan yang terjadi sebelum saya menghadapi UTS. Selama beberapa hari, mata saya rasanya hanya ingin terpejam. Kantuk dimulai dari bangun tidur sampai menjelang tidur. Sejujurnya, mata tidak kuat membuka. Dan saya mati-matian berusaha agar tetap melek dan sadar. Dan saya tidak tahu, saya kenapa hingga detik ini. Tapi, semasa UTS, alhamdulillah, sudah melek dan sadar. Saya khawatir jika itu terjadi lagi hari ini(8/11). Dan benar-benar terjadi. Saya kalah terhadap diri sendiri. Mengerikan.

Di KLC, kami mendapat segelas kopi, yang bisa diseduh sendiri. Saya tak ikut mencicipi, takut lambung tak bisa diajak kompromi, dan saya juga tidak suka kopi. Lebih suka minum air putih. O ya ampun, kenapa saya kebanyakan curhat, haha.

Setelah dari KLC, kami kembali ke pemberhentian bus tadi. Kami melangsungkan makan siang dengan menu lezat. Di rumah makan itu, ada pohon berdaun menjari dengan warna kekuningan, keoranyean, dan kehijauan menyerupai daun maple, yang menyenangkan dipandang. Itu bagi saya, entah kalau yang lain. Yang sederhana dan receh saja saya suka, apa lagi yang lebih? Hihi. Yaaa, curhat lagi.

Apa? Mau tahu kelanjutannya? Tunggu saja! Doakan saya segera bisa menuliskannya, ya. Saya pun tak sabar menulisnya, tapi banyak hal yang haemrus dilakukan :') terus semangatttt!


Sidoarjo, 12/11/18

Ttd,
Perindu Bandung

Sebagian 2025

Awal tahun 2025 menjadi pembuka untuk memulai pelajaran baru, dalam rangka menambah kemampuan. Kali ini dimulai dengan mengikuti workshop pe...